‘’Dua kasus itu sangat jarang kami temui sejak lima tahun terakhir,’’ kata Kepala Badan Kesetuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Madiun Tjatoer Wahjoedianto, Minggu (15/1).
Meski begitu, pihaknya terus mengantisipasi dan meminimalkan kemunculan kelompok radikal atau ancaman terorisme menjelang Pemilu 2024. Kendati potensinya sangat kecil, upaya pencegahan dan pengamanan tetap terus dilakukan.
‘’Informasinya, radikalisme dan terorisme itu dari Solo. Meski relatif dekat, namun pengaruhnya belum sampai di Kota Madiun,’’ ujarnya.
Pihaknya akan bekerja sama dengan Badan Intelegen Negara (BIN), korem, polresta, dan beberapa pihak lain. Itu sebagai upaya mitigasi dan pencegahan agar politisasi agama atau politik kebencian dalam pemilu dan Pilpres 2024 tidak merebak di antara masyarakat kota ini.
‘’Sempat kami lacak bersama organisasi-organisasi tersebut, kami belum menemukan tanda-tanda organisasi terorisme dan radikalisme,’’ ungkapnya.
Meski kota ini berstatus zero kasus, beberapa waktu lalu pihaknya sempat menerima laporan terdapat salah seorang anggota organisasi di Kota Madiun yang ikut bergabung dalam bentrokan di Kediri.
Kasus tersebut tentunya menjadi atensi bakesbangpol agar tidak muncul organisasi radikal. ‘’Hal-hal yang berkaitan dengan tempat berkumpulnya massa dengan arah kegiatan yang negatif selalu kami antisipasi dan awasi,’’ tegasnya.
Tjatoer menambahkan, setiap daerah berpotensi disusupi paham radikalisme, termasuk Kota Madiun. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta mengikis intoleransi agar tak terjeremus dalam paham yang menyimpang dari NKRI dan Pancasila.
‘’Untuk itu, kami berupaya dan mengajak semua pihak memelihara sikap toleransi dan terus memupuk persatuan,’’ harapnya. (mg4/sat) Editor : Hengky Ristanto