Jawa Pos Radar Madiun – Menjamurnya coffee shop di Kota Madiun tak serta-merta menjamin bisnis ini mudah bertahan.
Persaingan tinggi membuat peluang keuntungan tidak selalu stabil.
Ekonom sekaligus mantan Direktur Program Magister Manajemen FEB UI Harryadin Mahardika menilai, bisnis coffee shop memiliki hambatan masuk (barrier to entry) yang rendah.
’’Semua orang bisa membuat coffee shop. Tapi permintaannya tidak tumbuh secepat jumlah kafe,’’ ujarnya.
Kondisi itu membuat persaingan semakin ketat. Tidak sedikit pelaku usaha yang akhirnya kesulitan bertahan.
Menurutnya, agar tetap eksis, pelaku usaha harus memiliki konsep yang kuat dan berbeda.
’’Harus unik dan mengikuti kebutuhan konsumen,’’ jelasnya.
Dia menilai, pesatnya pertumbuhan coffee shop di Madiun menjadi indikator geliat ekonomi daerah.
Bahkan, jumlah kafe per kapita di kota ini tergolong tinggi di Jawa Timur.
Dari sisi pasar, karakter konsumen juga berbeda. Generasi Z cenderung mencari tempat yang estetik dan menarik secara visual.
Sementara milenial lebih mempertimbangkan cita rasa dan suasana.
’’Gen Z lebih ke konsep dan estetika. Milenial lebih ke rasa dan pengalaman,’’ terangnya.
Mahardika sendiri mengembangkan konsep Tirambintang Cafe and Library.
Kafe tersebut menggabungkan ruang baca dengan tempat nongkrong.
’’Di Madiun belum ada konsep baca buku sekaligus menikmati kuliner. Itu yang kami hadirkan,’’ katanya.
Selain konsep, harga kompetitif juga menjadi faktor penting di tengah persaingan.
Tren nongkrong dan pembuatan konten media sosial turut memengaruhi perilaku konsumen.
Dia mendorong pelaku usaha, khususnya generasi muda, untuk terus belajar dan berinovasi.
’’Ini bisa jadi sarana belajar bisnis. Tapi harus terus berkembang dan punya kualitas terbaik,’’ tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto