Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Skrining Jemput Bola, 39 Kasus TBC Terungkap di Madiun

Erlita H • Kamis, 9 April 2026 | 19:07 WIB
Petugas Puskesmas Banjarejo melakukan skrining aktif untuk mendeteksi kasus Tuberkulosis di masyarakat. DOK RADAR MADIUN
Petugas Puskesmas Banjarejo melakukan skrining aktif untuk mendeteksi kasus Tuberkulosis di masyarakat. DOK RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayah kerja Puskesmas Banjarejo masih menjadi perhatian serius.

Tingginya temuan kasus dipicu skrining aktif yang dilakukan petugas kesehatan.

Kepala Puskesmas Banjarejo Rohlina Agustriningtias mengatakan, deteksi dini terus diperkuat melalui metode jemput bola.

“Kasus yang ditemukan meningkat karena skrining kita lebih aktif,” ujarnya, Kamis (9/4).

Dalam dua tahun terakhir, sekitar 2.800 orang telah menjalani skrining. Hasilnya, ditemukan 39 kasus positif TBC sepanjang 2025.

Sekitar separuh pasien telah menyelesaikan pengobatan, sementara sisanya masih menjalani terapi.

Dalam tiga bulan terakhir, kembali ditemukan tiga hingga empat kasus baru.

Menurut Rohlina, angka tersebut bukan semata lonjakan kasus, melainkan hasil dari penelusuran intensif hingga ke kontak erat pasien.

“Penelusuran dilakukan sampai lingkungan rumah dan tempat kerja,” jelasnya.

Namun, penanganan TBC masih menghadapi kendala stigma di masyarakat.

Banyak pasien enggan terbuka karena menganggap penyakit tersebut memalukan.

“Ini yang menjadi tantangan. Pasien cenderung menutup diri,” katanya.

Padahal, TBC merupakan penyakit menular yang berisiko serius jika tidak segera ditangani.

Karena itu, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri jika mengalami gejala batuk berkepanjangan, tanpa harus menunggu hingga dua minggu.

Perhatian juga difokuskan pada kelompok rentan seperti bayi dan balita, terutama yang mengalami gangguan pertumbuhan.

“Tahun lalu ada tiga sampai empat kasus TBC pada anak,” ujarnya.

Rohlina menegaskan, keberhasilan penanganan sangat bergantung pada keterbukaan pasien serta kepatuhan menjalani pengobatan.

Termasuk pemeriksaan terhadap kontak erat untuk memutus rantai penularan.

Selain TBC, puskesmas juga mengantisipasi potensi peningkatan penyakit menular lain seperti HIV melalui skrining lanjutan.

“Sebagian kasus kematian bukan hanya TBC, tetapi disertai penyakit lain seperti HIV,” pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#skrining kesehatan #tuberkulosis #Puskesmas Banjarejo #kesehatan madiun #tbc madiun