Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cabai Rawit-Bawang Merah Picu Inflasi Kota Madiun, Pemkot Perkuat Pasokan Pangan

Erlita H • Jumat, 5 Juni 2026 | 16:30 WIB
Pergerakan inflasi Kota Madiun sepanjang 2026 masih dipengaruhi fluktuasi harga komoditas hortikultura, terutama cabai rawit dan bawang merah. BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN
Pergerakan inflasi Kota Madiun sepanjang 2026 masih dipengaruhi fluktuasi harga komoditas hortikultura, terutama cabai rawit dan bawang merah. BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah menjadi pemicu utama inflasi Kota Madiun pada Mei 2026.

Dua komoditas hortikultura tersebut mendorong inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) hingga mencapai 0,35 persen.

Pemkot Madiun pun bergerak cepat menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas harga pangan dan mencegah gejolak harga berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Kepala Bagian Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Madiun Danang Novianto mengatakan, lonjakan harga dipengaruhi meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Idul Adha serta menurunnya produksi di sejumlah daerah sentra akibat faktor cuaca.

"Kami terus memperkuat kerja sama antardaerah. Namun yang paling efektif adalah mendorong kerja sama langsung antarpedagang agar distribusi lebih cepat dan fleksibel saat harga bergejolak," ujarnya, Jumat (5/6).

Menurut Danang, perbedaan harga cabai maupun bawang merah dari tingkat petani hingga konsumen sebenarnya tidak terlalu besar.

Karena itu, pemerintah lebih fokus menjaga kelancaran distribusi dan menekan biaya logistik agar harga tetap terkendali di tingkat masyarakat.

Selain memperkuat pasokan, Pemkot Madiun juga mengandalkan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai instrumen intervensi jangka pendek untuk meredam kenaikan harga bahan pokok.

Program tersebut dinilai efektif membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pangan dengan harga lebih terjangkau sekaligus mencegah terjadinya panic buying saat harga mulai naik.

Ke depan, pelaksanaan GPM akan diperluas dan lebih banyak menyasar kawasan permukiman warga agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Pelaksanaan GPM akan kami dorong lebih dekat ke lingkungan warga supaya tepat sasaran," katanya.

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan 2026, kebutuhan cabai rawit masyarakat Kota Madiun mencapai sekitar 617 ton per tahun atau rata-rata 1,7 ton per hari.

Sementara kebutuhan bawang merah mencapai 581 ton per tahun atau sekitar 1,6 ton per hari.

Tingginya kebutuhan tersebut membuat pasokan dan distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga.

Selain intervensi pasar, Pemkot juga mengajak masyarakat berperan aktif memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan pekarangan.

Warga didorong menanam cabai secara mandiri melalui Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pasar saat harga mengalami kenaikan.

"Kami juga mengajak warga memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai melalui program Pekarangan Pangan Lestari guna memperkuat ketahanan pangan keluarga," tandas Danang. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#cabai rawit #harga pangan #gerakan pangan murah #inflasi kota madiun #bawang merah