Jawa Pos Radar Madiun – Kenaikan harga bawang merah mulai memberikan dampak terhadap laju inflasi di Kota Madiun.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang utama inflasi sepanjang Mei 2026.
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Aziz mengatakan, secara bulanan atau month to month (m-to-m), harga bawang merah mengalami inflasi sebesar 10,19 persen dengan andil terhadap inflasi mencapai 0,05 persen.
“Potensi andil bawang merah terhadap inflasi di Kota Madiun cukup besar,” ujarnya, Rabu (10/6).
Menurut Aziz, kenaikan harga dipicu terganggunya produksi di sejumlah daerah sentra bawang merah.
Serangan hama dan penyakit tanaman menyebabkan hasil panen menurun sehingga pasokan yang masuk ke pasar ikut berkurang.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada Kota Madiun yang selama ini bergantung pada pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan bawang merah masyarakat.
“Yang bisa dilakukan adalah memperkuat kerja sama dengan daerah produsen agar pasokan tetap terjaga,” katanya.
Meski harga meningkat, konsumsi masyarakat terhadap bawang merah dinilai masih relatif stabil.
Tidak adanya momentum besar yang mendorong lonjakan permintaan membuat tekanan harga belum semakin tinggi.
“Bulan ini tidak ada momentum yang menyebabkan kebutuhan bawang merah melonjak,” jelas Aziz.
Selain bawang merah, BPS juga mencermati pergerakan harga bawang putih yang mengalami tren kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Berbeda dengan bawang merah yang dipengaruhi faktor produksi domestik, harga bawang putih sangat bergantung pada pasokan impor.
Menurut Aziz, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi faktor utama yang memengaruhi harga bawang putih di pasar dalam negeri.
“Bawang putih memang agak repot karena sangat bergantung pada impor,” ujarnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto