Jawa Pos Radar Madiun – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026 diminta tidak disikapi secara berlebihan.
Hiswana Migas Madiun memastikan pasokan bahan bakar di wilayah Madiun Raya tetap aman meski berpotensi terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat.
Ketua Hiswana Migas Madiun Agus Wiyono mengatakan penyesuaian harga Pertamax merupakan hal yang wajar karena mengikuti mekanisme harga BBM nonsubsidi yang dipengaruhi perkembangan harga energi global dan kondisi pasar.
“Namanya BBM nonsubsidi memang fluktuatif. Sekarang bisa naik, ke depan juga bisa turun mengikuti situasi,” ujarnya, Jumat (12/6).
Menurut Agus, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan terhadap dampak kenaikan harga tersebut.
Pemerintah bersama Pertamina telah menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan distribusi BBM tetap berjalan normal dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Dia menilai tingkat konsumsi Pertamax di wilayah Madiun Raya selama ini tergolong tinggi.
Kondisi tersebut menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan.
“Pengguna Pertamax di Madiun Raya cukup tinggi. Masyarakat sekarang sudah semakin sadar menggunakan BBM yang sesuai kebutuhan kendaraannya,” katanya.
Meski demikian, Agus tidak menampik adanya potensi peralihan sebagian konsumen dari Pertamax ke Pertalite setelah penyesuaian harga diberlakukan.
Fenomena tersebut dinilai wajar mengingat adanya selisih harga yang cukup signifikan antara BBM subsidi dan nonsubsidi.
Untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan konsumsi Pertalite, Hiswana Migas bersama Pertamina dan pengelola SPBU telah melakukan koordinasi terkait kesiapan pasokan dan distribusi.
“Insya Allah semuanya sudah diatur. Masyarakat tidak perlu panik karena stok yang tersedia masih mencukupi,” tegasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto