Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot Madiun mulai mengarahkan pengembangan sektor pariwisata ke wisata berbasis sejarah, budaya, dan arsip.
Sejumlah bangunan bersejarah dipetakan untuk menjadi bagian dari jalur wisata baru yang diharapkan mampu memperkuat identitas Kota Pendekar sekaligus menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Langkah tersebut mulai diwujudkan melalui program Madiun Jelajah Arsip yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip).
Dalam program itu, pemkot menggandeng komunitas sejarah, pegiat budaya, hingga kalangan sastra untuk menyusun konsep wisata berbasis narasi dan pengalaman atau experience tourism.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengatakan, pengembangan pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan destinasi buatan.
Kota Madiun perlu menghadirkan cerita dan nilai sejarah yang dapat dinikmati sekaligus dipelajari wisatawan.
“Pemkot sedang membangun wisata dengan sebuah cerita. Karena itu arsip, sejarah, budaya, dan sastra harus menjadi bagian dari pengembangan wisata,” ujarnya, Kamis (17/6) malam.
Menurut Bagus, Disperpusip saat ini juga tengah mempersiapkan museum kearsipan yang nantinya terhubung dengan jaringan informasi kearsipan nasional.
Kehadiran museum tersebut diharapkan menjadi destinasi edukatif sekaligus pusat informasi sejarah Kota Madiun.
Sejumlah lokasi bersejarah mulai dipetakan sebagai bagian dari rute wisata heritage.
Di antaranya kawasan Balai Kota Madiun, kantor Disperpusip, Gereja Katolik Santo Cornelius, SD Bernardus, hingga rumah tahanan militer yang saat ini masih dalam tahap koordinasi dengan pihak TNI.
Bagus menegaskan, konsep wisata yang dikembangkan tidak hanya menawarkan kunjungan ke bangunan bersejarah.
Wisatawan juga akan mendapatkan narasi dan cerita yang menjelaskan peran setiap lokasi dalam perjalanan sejarah Kota Madiun.
“Kami ingin wisatawan tidak hanya datang melihat, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan cerita sejarah dari setiap tempat yang dikunjungi,” katanya.
Selain menyiapkan destinasi, pemkot juga mendorong keterlibatan komunitas lokal sebagai pemandu wisata dan penyusun narasi sejarah.
Keterlibatan masyarakat dinilai penting untuk memperkuat autentisitas pengalaman wisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru di sektor pariwisata.
Dengan konsep tersebut, Pemkot Madiun berharap wisata sejarah dan budaya dapat menjadi daya tarik baru yang melengkapi destinasi yang sudah ada.
Di sisi lain, program ini juga diharapkan menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah daerahnya sendiri.
“Harapannya seluruh komunitas bisa berkolaborasi untuk membangun wisata berbasis sejarah dan budaya yang menjadi identitas Kota Madiun,” tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto