Jawa Pos Radar Madiun - Menjaga keharmonisan sosial dan merawat kelestarian alam merupakan dua pilar krusial yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban kota yang berkelanjutan.
Lembaga keagamaan kini dituntut tidak hanya berfokus pada pembinaan ritual spiritual semata,
melainkan harus mampu bergerak progresif mengonversi nilai-nilai ketuhanan menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan ekologi dan sosial masyarakat.
Langkah transformatif inilah yang sukses diakomodasi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Madiun, Dr. H. M. Zainut Tamam, S.Ag., M.Pd.I.
Melalui pendekatan kebijakan yang inovatif, ia berhasil menelurkan cetak biru gerakan bertajuk Ekoteologi,
sebuah bentuk teologi konstruktif yang memfokuskan hubungan antara agama dan keyakinan dengan kelestarian alam lingkungan hidup di wilayah Kota Madiun.
"Kami ingin memberikan sumbangsih nyata dengan mengaitkan aspek lingkungan hidup secara langsung ke dalam implementasi keagamaan.
Melalui program ekoteologi ini, pelestarian alam menjadi bagian terintegrasi dari perwujudan iman,"
terang Kepala Kantor Kemenag Kota Madiun, Zainut Tamam.
Implementasi gerakan ekoteologi ini diwujudkan secara masif melalui berbagai rangkaian aksi di lapangan.
Kemenag Kota Madiun menggerakkan penanaman pohon matoa serentak yang melibatkan seluruh tokoh lintas agama,
serta melakukan penghijauan intensif di lingkungan madrasah, Kantor Urusan Agama (KUA), hingga kompleks tempat peribadatan lintas iman.
Gebrakan Kemenag Kota Madiun kian mapan dengan diluncurkannya program Gema Scatin (Gerakan Menanam Satu Pohon Bagi Calon Pengantin).
Melalui regulasi taktis ini, setiap pasangan calon pengantin diwajibkan memberikan kontribusi hijau dengan menanam satu bibit pohon di area publik maupun rumah ibadah sebelum melaksanakan pernikahan.
Program ini disinkronkan dengan gerakan bersih-bersih lingkungan tempat ibadah secara berkala guna menciptakan ruang sakral yang sejuk, nyaman, dan inklusif.
Di sektor pendidikan dan sosial, Zainut Tamam konsisten mempercepat eskalasi mutu madrasah dan pondok pesantren (ponpes).
Penguatan kurikulum diarahkan pada pembentukan akhlak karimah, penguasaan sains, serta penanaman prinsip moderasi beragama seperti kepatuhan terhadap
Pancasila, UUD 1945, NKRI, toleransi, anti-kekerasan, dan sikap adaptif terhadap kebudayaan lokal sebagai bekal para santri sebelum terjun ke tengah masyarakat.
Baca Juga: Ratusan Pelajar Ramaikan Exmud Party 2026, Ajang Kreativitas yang Siapkan Generasi Digital
Guna memperluas daya jangkau program, Kemenag Kota Madiun kini tengah menyusun draf perluasan kerja sama (MoU)
dengan jajaran kelurahan se-Kota Madiun untuk pemetaan lahan publik dan area rumah ibadah yang akan dijadikan target penghijauan Gema Scatin berikutnya.
Atas dedikasi tinggi, konsistensi dalam memelihara kerukunan antarumat, serta keberhasilan melahirkan inovasi birokrasi keagamaan berbasis penyelamatan lingkungan yang berdampak masif ini,
Dr. H. M. Zainut Tamam, S.Ag., M.Pd.I. dinilai sangat layak dianugerahi penghargaan Special Achievement dalam ajang Radar Madiun Education Awards 2026.
"Target besar kami ke depan adalah memastikan kerukunan umat beragama di Kota Madiun tetap terjaga secara harmonis dan damai.
Sementara di sektor pendidikan, kami optimistis madrasah dan pesantren kita akan semakin maju, sarat prestasi, hingga mampu berbicara di kancah mendunia," pungkasnya. (err/ser/naz)
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun