Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Gagas Sekolah Berbasis Budaya, Sapto Usada Sukses Jadikan Batik Identitas SMPN 7 Madiun

Tim Magang Radar Madiun • Selasa, 30 Juni 2026 | 15:38 WIB
Direktur Jawa Pos Radar Madiun Ockta Prana Lagawira menyerahkan penghargaan Visionary Leader kepada Kepala SMPN 7 Madiun Sapto Usada dalam ajang Radar Madiun Education Awards 2026, Minggu (28/6). (BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN)
Direktur Jawa Pos Radar Madiun Ockta Prana Lagawira menyerahkan penghargaan Visionary Leader kepada Kepala SMPN 7 Madiun Sapto Usada dalam ajang Radar Madiun Education Awards 2026, Minggu (28/6). (BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Di era gempuran modernisasi yang acap kali mengikis rasa cinta generasi muda terhadap warisan leluhur,

dunia pendidikan dituntut tidak hanya berfokus pada kejar tayang angka-angka akademik di atas kertas.

Sekolah harus dikembalikan pada fungsi luhurnya sebagai pusat kebudayaan dan inkubator pembentukan jati diri bangsa.

Prinsip filosofis itulah yang dieksekusi secara nyata oleh Kepala SMPN 7 Madiun, Sapto Usada.

Di bawah nakhoda kepemimpinannya, sekolah ini sukses melakukan gebrakan besar dengan mencanangkan draf sekolah berbasis budaya melalui pemanfaatan batik,

Baca Juga: 48 Siswa SMAN 6 Madiun Lolos SNBP, Terbanyak se-Kota Madiun

yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia sejak 2009 sebagai media edukasi holistik yang inovatif.

"Sebagai pemimpin, saya memandang sekolah bukan sekadar alat pencetak nilai. Batik adalah perpaduan sempurna untuk menanamkan nilai kesabaran, kreativitas, dan kewirausahaan.

Melalui inovasi ini, siswa tidak sekadar memakai batik seragam, melainkan memproduksi sendiri karyanya lewat kurikulum," tegas Kepala SMPN 7 Madiun, Sapto Usada.

Guna membumikan gagasan besar tersebut, Sapto merancang tiga strategi taktis yang terukur.

Langkah awal dimulai dengan merancang kurikulum terpadu; teknik membatik tidak diletakkan secara terisolasi pada mapel Seni Budaya semata,

melainkan dikolaborasikan secara interdisipliner dengan muatan pelajaran Sejarah, Matematika, Ekonomi, hingga Bahasa Indonesia.

Baca Juga: Sentuhan Andrias Marstanto Sukses Sulap SMAN 1 Kedunggalar Jadi Asri dan Berprestasi

Melalui pola ini, pembelajaran menjadi lebih aplikatif berbasis karya nyata. Strategi berikutnya menyasar pada penyediaan infrastruktur.

Sapto menyulap ruang kosong di sekolah menjadi studio dan galeri batik yang representatif sebagai pusat inkubasi karya kontemporer.

Tidak berhenti di situ, ia secara progresif mendatangkan langsung para perajin batik lokal ke sekolah demi menjamin transfer pengetahuan (transfer of knowledge) berjalan otentik dari sumber ahlinya untuk melatih jajaran guru serta siswa.

Akselerasi program ini membuahkan hasil yang membanggakan. Lingkungan warga sekolah kini tidak hanya mahir menggoreskan canting dengan motif kekinian, 

melainkan juga piawai mengelola tata niaga digital marketing sekolah. Kombinasi apik ini berhasil memperhalus rasa,

emosi, kedisiplinan, serta membekali anak didik dengan lifeskill yang bernilai ekonomis tinggi.

Atas ketegasan visi, keberanian melakukan diferensiasi tata kelola sekolah, dan kontribusi nyata dalam merawat identitas kebudayaan daerah ini,

Sapto Usada sangat layak dianugerahi penghargaan Visionary Leader dalam ajang Radar Madiun Education Awards 2026.

Baca Juga: SMKN 5 Madiun Perkuat Identitas dengan Rebranding sebagai Entrepreneur School

Kini, SMPN 7 Madiun telah bertumbuh menjadi sekolah rujukan, sering diundang sebagai narasumber,

serta aktif unjuk gigi dalam ajang fashion show batik di tingkat Kota Madiun.

"Target besar kami ke depan adalah membawa SMPN 7 menjadi pusat industri kreatif batik yang mandiri dan berkelanjutan. Melalui untaian malam dan canting, 

kami ingin memastikan setiap siswa mampu menulis masa depan yang cerdas intelektual namun tetap berakar kuat pada jati diri bangsa," pungkas Sapto. (eln/*/naz)

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
#SMPN 7 Madiun #madiun