Jawa Pos Radar Madiun – Predikat sekolah hijau bukan barang baru bagi SMP Negeri 11 Madiun yang kokoh memegang gelar Adiwiyata Mandiri sejak 2016.
Gelar tersebut resmi diperpanjang pada tahun 2024 lalu dan hingga sekarang masih disandang SMPN 11.
Inovasi mereka bertajuk Pendekar Berkumis (Pendidikan Kreatif Ramah Lingkungan Bersama Kurangi Emisi) juga sukses melesat ke tingkat nasional dalam ajang Inovasi Pelayanan Publik Kemenpan RB 2024.
Di bawah nakhoda Moch. Agus Setiono, tradisi hijau tersebut kini dikawinkan dengan dunia usaha lewat program Metapro (Menanam Tanaman Produktif).
‘’Siswa tidak sekadar menerima teori di kelas. Mereka langsung mempraktikkan proses menanam, merawat, hingga mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual,’’ papar Agus.
Baca Juga: Gagas Sekolah Berbasis Budaya, Sapto Usada Sukses Jadikan Batik Identitas SMPN 7 Madiun
Hasil bumi dari kebun sekolah ini diolah secara kreatif. Tanaman pandan dan mawar disulap menjadi topping rasa untuk lipbalm, sawi difermentasi menjadi kimchi, sementara timun dan cabai diolah menjadi minuman serut serta asinan.
Sebagian rempah-rempah dimanfaatkan untuk pupuk organik, dan sisanya dilempar ke pasar bersama sayuran segar.
Bahkan, tanaman hias dijadikan bahan riset indikator makanan alami serta obat herbal seperti salep bidara, hingga budidaya lumut Azolla untuk pakan ternak.
Menariknya, perputaran uang dari pemasaran produk mandiri ini dikembalikan untuk modal pupuk, dana cadangan Metapro, hingga disalurkan sebagai bantuan sosial bagi siswa yang membutuhkan.
Atas konsistensi menghadirkan ekosistem hijau yang berdampak sosial dan ekonomi ini, SMPN 11 Madiun dianugerahi penghargaan Green School dalam ajang Radar Madiun Education Awards 2026 setelah sebelumnya menyabet Juara 1 Melati Losida Kota Madiun. (eln/*/naz)
Editor : Tim Magang Radar Madiun