Jawa Pos Radar Madiun – Selasar Balai Kota Madiun berubah menjadi galeri budaya selama penyelenggaraan Madiun Batik Heritage 2026 pada 16–18 Juli.
Sebanyak 33 perajin batik dan kriya menampilkan karya sekaligus mendemonstrasikan proses pembuatan batik, ukir kayu, hingga wayang secara langsung kepada masyarakat.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai kalangan, mulai pembatik, pengukir kayu, perajin wayang, hingga siswa SD dan SMP yang mengikuti ekstrakurikuler membatik.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun Yoga Pratomo mengatakan, kegiatan bertema "Merajut Warisan, Menenun Masa Depan" tersebut tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga sarana regenerasi pembatik dan penguatan sektor ekonomi kreatif.
"Madiun Batik Heritage menjadi wadah melestarikan batik dengan melibatkan seluruh pembatik di Kota Madiun, termasuk siswa SD dan SMP," ujarnya, Jumat (17/7).
Hari pertama penyelenggaraan diisi berbagai kegiatan, seperti Batik Photo Hunt, nyanting on the spot, lomba desain batik digital, demonstrasi ukir kayu, nitik wayang, fashion show Asosiasi Perajin Batik Madiun (APBM), bazar batik, hingga pertunjukan seni.
Menurut Yoga, hasil lomba desain motif batik nantinya tidak hanya menjadi koleksi pameran.
Sesuai arahan Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun, motif terbaik akan dikembangkan menjadi batik khas Kota Madiun yang digunakan oleh aparatur sipil negara (ASN).
"Harapannya kegiatan ini memberi dampak ekonomi bagi pelaku ekonomi kreatif dan terus berlanjut setiap tahun," katanya.
Perajin ukir kayu Yoyok Supriyadi mengaku antusias karena dapat memperlihatkan langsung proses pembuatan patung kepada masyarakat.
Sementara itu, perajin nitik wayang Agus Wijanarko berharap ruang apresiasi terhadap pelaku seni tradisional semakin luas agar batik dan wayang tetap lestari.
Hal senada disampaikan pemilik Batik Utama, Sutama.
Menurutnya, Madiun Batik Heritage menjadi momentum memperkenalkan batik khas Kota Madiun, termasuk motif Melati Pangongangan yang terinspirasi dari Punden Nyai Ronje.
"Kami berharap generasi muda semakin mencintai batik sehingga warisan budaya ini tetap lestari," pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto