Jawa Pos Radar Madiun – DLH Kota Madiun melirik teknologi pengolahan limbah organik menjadi bahan bakar BM-100 sebagai solusi mengurangi timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Winongo.
Teknologi yang dikembangkan Cahya Yudi Widianto itu dinilai mampu membantu mengatasi dominasi sampah organik di Kota Madiun.
Subkoordinator Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kota Madiun Annita Yuli Mayasari mengatakan, fasilitas pengolahan limbah organik milik PT Marolis di Jalan Sawahan, Kelurahan Manguharjo, memiliki potensi besar untuk mendukung pengelolaan sampah organik yang selama ini menjadi persoalan utama.
"Jumlah sampah organik masih menjadi problematika terbesar di Kota Madiun. Kehadiran pengolahan limbah organik menjadi BM-100 ini menjadi solusi yang sangat baik karena dapat membantu pemerintah menyelesaikan persoalan sampah organik," ujarnya, Kamis (30/7).
Menurut Annita, rencana kerja sama nantinya akan difokuskan pada pengolahan sampah organik yang berasal dari pasar, restoran, hotel, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Selama ini, sektor-sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar timbunan sampah organik di Kota Madiun.
Program tersebut juga sejalan dengan gerakan pemilahan sampah dari rumah yang akan diluncurkan Pemerintah Kota Madiun pada Kamis (31/7).
Dengan tersedianya fasilitas pengolahan BM-100, sampah organik yang telah dipilah dapat langsung dimanfaatkan menjadi energi sehingga volume sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan.
"Program ini sangat mendukung gerakan pemilahan sampah dari rumah. Masyarakat maupun pemerintah memiliki solusi nyata untuk mengurangi timbunan sampah yang berakhir di TPA," katanya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto