Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot Madiun mengubah strategi penanganan sampah.
Tak lagi bertumpu pada pengangkutan ke TPA Winongo, pengelolaan kini difokuskan pada pemilahan sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Langkah itu menjadi bagian dari target mewujudkan zero waste pada 2027.
Gerakan tersebut diluncurkan dalam Festival Madiun Hijau di Pahlawan Street Center (PSC), Jumat (31/7).
Kegiatan dirangkai dengan pengukuhan Pendekar Hijau, pameran inovasi pengelolaan sampah dari kelurahan, serta peragaan busana berbahan daur ulang.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengatakan, perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah.
Menurutnya, persoalan sampah bukan semata tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup (DLH), tetapi seluruh masyarakat.
"Budaya lama harus kita tinggalkan. Sampah bukan hanya urusan DLH, tetapi urusan kita semua karena setiap hari kita menghasilkan sampah," ujarnya.
Bagus menjelaskan, perubahan strategi dilakukan karena kapasitas TPA Winongo sudah melebihi batas.
Karena itu, masyarakat diminta mulai memilah sampah dari rumah agar volume sampah yang masuk ke TPA terus berkurang.
Dia mengajak seluruh elemen, mulai kepala OPD, camat, lurah, ketua RT/RW, petugas kebersihan, hingga masyarakat, terlibat aktif menyukseskan program tersebut.
"Zero waste bukan sekadar slogan. Ini menjadi program prioritas yang harus dikerjakan bersama," tegasnya.
Untuk mempercepat implementasi program, Pemkot Madiun mengalokasikan bantuan stimulus sebesar Rp 10 juta bagi setiap RT.
Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 10,25 miliar untuk 1.025 RT yang tersebar di tiga kecamatan.
Bagus berharap dana tersebut dimanfaatkan untuk membangun sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat.
"Keberadaan ketua RT tentu menjadi ujung tombak perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah. Dengan demikian, beban TPA Winongo dapat ditekan," tandasnya. (err/her/adv)
Editor : Hengky Ristanto