Kisah Herlin Susilowati, Perajin Disabilitas Madiun yang Sulap Sisa Wayang Jadi Cuan

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 13:40 WIB
KREATIF: Herlin Susilowati menunjukkan kerajinan wayang buatannya di kawasan Klegen, Kota Madiun. Usaha tersebut dirintis sejak 2001 dengan memanfaatkan sisa bahan pembuatan wayang kulit.
KREATIF: Herlin Susilowati menunjukkan kerajinan wayang buatannya di kawasan Klegen, Kota Madiun. Usaha tersebut dirintis sejak 2001 dengan memanfaatkan sisa bahan pembuatan wayang kulit.

Jawa Pos Radar Madiun - Bagi sebagian orang, potongan kulit sisa pembuatan wayang mungkin berakhir sebagai limbah. Namun, di tangan Herlin Susilowati, bahan yang tak terpakai itu justru menjadi awal perjalanan usaha yang telah bertahan sekitar seperempat abad.

Perempuan 47 tahun itu menyulap sisa bahan pembuatan wayang menjadi gantungan kunci hingga berbagai hiasan bernuansa budaya. Dari kediamannya di kawasan Gang Jati Subur, Kelurahan Klegen, Kota Madiun, Herlin terus berkarya sekaligus menjaga wayang tetap dekat dengan masyarakat.

Keterbatasan fisik tidak menghalangi kreativitasnya. Herlin merupakan penyandang tunadaksa sejak berusia dua tahun.

Perkenalannya dengan dunia wayang tumbuh dari lingkungan keluarga. Ayahnya, Soedjito, telah lebih dahulu menekuni pembuatan wayang kulit seri pedalangan sejak 1990.

Baca Juga: Pilah Sampah Mulai Jadi Kebiasaan Warga Madiun, Tiap RT Dapat Stimulan Rp 10 Juta

Dari usaha sang ayah itulah Herlin menemukan jalannya sendiri. Titik balik tersebut datang pada 2001, tepat setelah dia menamatkan pendidikan SMA.

Saat itu, Herlin melihat cukup banyak potongan kulit tersisa dari proses pembuatan wayang. Alih-alih membiarkannya terbuang, dia mencoba mengubah bahan tersebut menjadi kerajinan berukuran lebih kecil.

"Tahun 2001 itu saya lulus sekolah bingung mau kerja apa, lalu lihat limbah kulit banyak sisanya, terus saya iseng-iseng buat gantungan kunci dan hiasan dari bahan sisa itu ternyata banyak peminatnya," jelas Herlin.

Perjalanan usaha Herlin tidak selalu mulus. Salah satu periode terberat datang ketika pandemi Covid-19 menghantam.

Harga kulit sapi yang menjadi bahan utama pembuatan wayang melonjak. Pada saat bersamaan, kemampuan belanja masyarakat ikut melemah sehingga permintaan terhadap produknya menurun.

"Untuk tantangan ya pas Covid-19 itu, harga kulit sapi langsung naik dan yang beli juga berkurang," ujar Herlin.

Kondisi tersebut memaksanya mengubah strategi produksi. Jika sebelumnya kulit mentah diperoleh dari Magetan dan proses mengukir bentuk wayang dilakukan sendiri, Herlin kemudian memilih memesan ukiran wayang yang sudah jadi dari Yogyakarta.

Sistem penjualan wayang kulit juga ikut berubah. Herlin tak lagi leluasa menyimpan banyak stok seperti sebelumnya.

Wayang berbahan kulit kini lebih banyak diproduksi berdasarkan pesanan. Langkah tersebut diambil untuk menekan risiko ketika biaya bahan baku semakin tinggi.

Adaptasi juga dilakukan terhadap produk gantungan kunci dan hiasan. Kulit sapi yang sebelumnya menjadi bahan utama mulai digantikan dengan tripleks.

Herlin mengerjakan sendiri proses kreatifnya. Mulai menggambar pola, mengukir, hingga memberikan warna pada kerajinan.

Pemasaran tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung. Herlin rajin mengikuti festival dan berbagai bazar budaya untuk memperkenalkan produknya.

Media sosial turut dimanfaatkan sebagai etalase digital. Facebook menjadi salah satu kanal yang menurut Herlin paling banyak mendatangkan peminat kerajinannya.

Jangkauan produknya bahkan tidak berhenti di dalam negeri. Kerajinan buatan Herlin telah ikut dibawa hingga ke mancanegara.

Pesanan tersebut antara lain datang dari siswa yang mengikuti program pertukaran pelajar atau student exchange di luar negeri. Kerajinan wayang digunakan untuk memperkenalkan budaya Indonesia di negara tujuan mereka.

Baca Juga: LKK Kota Madiun Dialihkan ke BPR, DPRD Minta Piutang dan Kredit Macet Dipetakan

Bagi Herlin, pencapaian itu memiliki arti lebih besar dibandingkan sekadar menjual produk. Wayang yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan keluarganya sekaligus menjadi budaya yang ingin terus dia pertahankan.

Setelah puluhan tahun menjalankan usaha, Herlin masih menyimpan harapan terhadap dukungan pemerintah. Salah satunya penyediaan ruang pemasaran yang lebih mudah diakses pelaku usaha penyandang disabilitas.

"Saya berharap diberikan stan-stan untuk berjualan," ujarnya.

Menurut Herlin, dukungan terhadap penyandang disabilitas yang ingin mandiri melalui usaha juga tidak cukup hanya berupa bantuan modal. Peningkatan kemampuan melalui pelatihan dan keterampilan dinilai sama pentingnya.

"Untuk pemerintah kalau bisa ya dibantu untuk memberikan pelatihan dan keterampilan tidak hanya memberikan modal saja, untuk generasi muda semoga terus mencintai kebudayaan wayang agar tidak punah," pungkasnya.

Herlin juga menitipkan semangat kepada penyandang disabilitas yang sedang merintis usaha atau ingin mulai berkarya.

"Untuk penyandang disabilitas tetap semangat jangan mudah menyerah," pesannya.

Berawal dari potongan kulit yang nyaris terbuang, Herlin menemukan jalan untuk berdiri dengan karyanya sendiri. Sekitar 25 tahun kemudian, kerajinan itu bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga caranya menjaga wayang agar terus dikenal generasi berikutnya. (*/naz)

Sabrina Ika Ayu Wardhani, Universitas Brawijaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
difabel madiun wayang inspirasi inspiratif