Jawa Pos Radar Madiun – Panggung Raka Raki Jawa Timur 2026 bukan sekadar kontes bagi Naura Fauzia Nurina Ramadhani.
Mahasiswi Hukum Universitas Airlangga (Unair) asal Madiun itu datang membawa identitas daerah, gagasan lingkungan, sekaligus misi tentang pariwisata berkelanjutan.
Perjalanannya berbuah manis. Naura menyabet gelar Raki Favorit Jatim 2026 dengan perolehan 53,8 persen suara.
Perempuan 19 tahun itu juga masuk jajaran Raki Berbusana Terbaik serta menjadi Winner Raki IRARI Talk Grup 6.
’’Rasanya campur aduk. Kaget, senang, terharu, dan bangga karena semua proses yang Naura jalani akhirnya membuahkan hasil,’’ ujarnya, Minggu (23/8).
Bagi Naura, gelar Raki Favorit menjadi salah satu pencapaian paling berkesan. Sebab, predikat tersebut lahir dari dukungan masyarakat.
Di balik kebanggaan itu, dia menyadari ada tanggung jawab baru. Yakni, ikut berkontribusi dalam mempromosikan pariwisata dan budaya Jawa Timur.
Identitas Madiun tak ditinggalkan selama kompetisi. Melalui busana Glamour Batik, Naura memperkenalkan batik Muncar Gebyaring Karto karya Ghozart dan WMH Batik.
Busana tersebut berhasil membawanya masuk jajaran Raki Berbusana Terbaik.
’’Bisa membawa dan memperkenalkan Batik Madiun tentu menjadi pengalaman yang membanggakan,’’ katanya.
Masa karantina juga membuka perspektif baru bagi Naura. Pertemuan dengan peserta dari 38 kabupaten/kota membuatnya bisa mengenal keragaman Jawa Timur langsung dari para representasi daerah.
Bukan hanya destinasi wisata. Naura juga mempelajari budaya, tradisi, hingga karakter masyarakat dari berbagai penjuru provinsi tersebut.
’’Setiap daerah punya ciri khas sendiri. Tetapi ada satu yang terasa sama, yaitu keramahan masyarakatnya. Soal ramah dan hospitality, insyaallah Jawa Timur juaranya,’’ tuturnya.
Perjalanan Naura menuju Raka Raki berangkat dari ketertarikannya terhadap komunikasi dan public speaking. Persiapannya pun tidak dilakukan dalam waktu singkat.
Naura mempelajari profil seluruh 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Materinya dikelompokkan berdasarkan sejarah, budaya, destinasi wisata, ekonomi kreatif, hingga potensi unggulan masing-masing daerah.
Apalagi, Raka Raki Jatim 2026 mengangkat tema sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan.
’’Bukan hanya menghafal nama tempat, tetapi memahami cerita yang membuat tempat tersebut menarik,’’ jelasnya.
Kemampuan komunikasi juga terus ditempa melalui kelas public speaking.
Naura rutin merekam latihannya sendiri untuk mengevaluasi intonasi, gestur, hingga cara menyampaikan gagasan. Kemampuan bahasa Inggris turut diasah.
Namun, ada satu gagasan khas Madiun yang dibawa Naura: ECO PECEL atau Pengelolaan Economy Circular melalui Eco Enzyme dan Limbah.
Program advokasi hasil kolaborasi dengan DLH Kota Madiun dan Proklim Pesanggrahan Taman tersebut mengangkat pemanfaatan limbah kuliner pecel menjadi eco enzyme.
Gagasan itu mempertemukan kuliner yang lekat dengan identitas Madiun dengan isu lingkungan dan ekonomi sirkular.
Sekaligus sejalan dengan tema pariwisata berkelanjutan yang diusung dalam Raka Raki Jatim tahun ini.
Perjalanan menuju panggung tersebut bukannya tanpa keraguan. Naura mengaku sempat minder ketika melihat kemampuan kandidat lain.
Alih-alih larut membandingkan diri, dia memilih fokus pada proses dan kemampuannya sendiri.
’’Aku belajar untuk enjoy the moment. Tetap belajar, berlatih, berdoa, dan berusaha memberikan yang terbaik,’’ ungkapnya.
Keluarga, teman, hingga masyarakat menjadi penopang penting perjalanan Naura. Terutama selama voting Raki Favorit berlangsung pada 28 Juli–7 Agustus.
Dukungan bermula dari penyebaran konten dan flyer. Gerakan tersebut kemudian meluas secara organik di masyarakat hingga mengantarkannya meraih 53,8 persen suara.
’’Gelar Raki Favorit ini benar-benar hasil kerja banyak orang, bukan hanya aku dan tim,’’ tutur anak bungsu pasangan Imet Chaerudin Tamsil dan Elli Kusharyatiningsih itu.
Kompetisi telah berakhir, tetapi Naura tak ingin langkahnya berhenti di panggung Raka Raki.
Dia ingin terus belajar dan mengambil peran dalam pengembangan pariwisata Jawa Timur.
Pengalaman tersebut juga melahirkan satu pesan yang ingin dia bagikan kepada generasi muda: jangan menunggu sempurna untuk berani mengambil kesempatan.
’’Kalau ada sesuatu yang ingin kalian coba, mulai saja. Kalau gagal, belajar. Kalau belum berhasil, evaluasi dan coba lagi,’’ pesannya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto