G6G, Trio DJ Perempuan Madiun yang Viral dari Bak Pikap

Erlita H • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:20 WIB
BEDA WARNA: Ida, Syier, dan Jia yang tergabung dalam G6G membawa karakter musik berbeda untuk meramaikan skena musik Madiun.
BEDA WARNA: Ida, Syier, dan Jia yang tergabung dalam G6G membawa karakter musik berbeda untuk meramaikan skena musik Madiun.

Jawa Pos Radar Madiun – Siapa sangka bak pikap bisa menjadi panggung yang mengerek nama G6G.

Berbekal perangkat DJ, genset, ponsel, dan tripod, trio perempuan Idalia (Ida), Syier, dan Jia mencuri perhatian setelah aksi mereka nge-DJ sembari membagikan makanan saat sahur on the road viral di media sosial.

Dari sana, Girls 6iest Group (G6G) semakin dikenal di skena musik Madiun. Tawaran manggung berdatangan, bahkan membawa mereka keluar kota.

Padahal, perjalanan ketiganya bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: iseng.

G6G terbentuk pada 2025. Mulanya, seorang pegiat kreatif mengajak Ida, Syier, dan Jia membentuk grup DJ untuk tampil dalam sebuah acara.

Eksperimen itu ternyata membuat ketiganya ketagihan. Setelah mendapat respons positif dan mulai banyak diundang, mereka memutuskan melanjutkan G6G secara mandiri.

’’Kami awalnya hanya iseng. Karena teman-teman menikmati dan banyak yang mengundang, akhirnya kami memutuskan terus berjalan,’’ ujar Syier, Minggu (23/8).

Justru perbedaan menjadi identitas mereka. Ida memainkan baile funk dan hip hop, sedangkan Syier lebih condong ke drum and bass, house, serta groove.

Sementara itu, Jia menyukai musik dengan karakter lebih keras. Perbedaan tersebut juga tecermin dari gaya busana masing-masing personel.

Baca Juga: Reuni Eks Napi di Magetan Berujung Pesta Sabu, 11 Orang Diamankan

’’Kami terbentuk dari perbedaan. Masing-masing tetap punya karakter sendiri,’’ katanya.

Momentum besar datang saat G6G viral lewat konten sahur on the road.

Ide yang awalnya spontan tersebut diwujudkan dengan menaruh perangkat DJ di atas bak pikap sembari berkeliling membagikan makanan sahur.

Konsepnya jauh dari produksi konten mewah. Genset digunakan sebagai sumber listrik, sedangkan dokumentasi hanya mengandalkan ponsel dan tripod.

Hasilnya justru di luar perkiraan. Video aksi trio DJ perempuan Madiun tersebut banyak diunggah ulang oleh berbagai akun media sosial.

Jumlah pengikut mereka ikut bertambah. Tawaran manggung pun semakin ramai.

G6G bahkan mulai mendapat panggung di luar Madiun. Mojokerto dan Gresik menjadi beberapa kota yang telah mereka sambangi.

’’Awalnya kami tidak menyangka akan cukup meledak. Banyak yang me-repost. Setelah itu pengikut bertambah dan pekerjaan juga semakin ramai,’’ ungkap Syier.

Popularitas yang mulai tumbuh tak lantas membuat perjalanan G6G serba mudah. Ketiganya masih menjalankan grup secara mandiri.

Perangkat DJ, misalnya, masih harus menyewa. Sementara untuk mengasah kemampuan, mereka memanfaatkan fasilitas open deck di sejumlah kedai kopi.

Baca Juga: Buron 11 Bulan, Pencuri Toko Kelontong di Ngawi Dibekuk

Di balik keterbatasan itu, mereka melihat skena musik Madiun sebenarnya memiliki potensi besar.

Talenta anak muda bermunculan dari beragam genre, mulai hip hop, hardcore, musik elektronik, hingga band.

Persoalannya, menurut Syier, ruang berekspresi yang mudah diakses belum sebanyak potensi kreatornya.

’’Di Madiun banyak anak-anak yang berkarya, tetapi kami kekurangan wadah,’’ terangnya.

Itu pula yang membuat G6G tak ingin berhenti sebagai grup yang sekadar menerima tawaran manggung.

Ida, Syier, dan Jia ingin memperbanyak mixtape, mengembangkan konten kreatif, hingga menjajaki produksi musik sendiri.

Mereka juga memiliki satu gagasan lain: membawa DJ keluar dari ruang yang selama ini telanjur melekat dengannya.

Bagi G6G, musik elektronik bisa hadir di banyak tempat dan menjangkau audiens lebih luas. Pengalaman viral dari bak pikap menjadi salah satu buktinya.

’’DJ tidak harus selalu identik dengan diskotek, klub malam, atau kedai kopi,’’ pungkas Syier. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
G6G trio DJ perempuan Madiun G6G viral skena musik madiun