Jawa Pos Radar Madiun – PSHT Pusat Madiun meneguhkan kembali ajaran budi luhur, persaudaraan, dan kebinekaan di usia 104 tahun.
Warga PSHT juga diserukan turut menjaga Madiun tetap aman, damai, dan kondusif sebagai Kota Pendekar.
Pesan tersebut digaungkan dalam pengajian keluarga besar PSHT bertema Sinergi Budaya dan Religi di Kota Pendekar.
Ketua Umum PSHT Pusat Madiun R. Moerdjoko H.W. mengatakan, kegiatan itu menjadi momentum memperingati tiga agenda sekaligus.
Yakni, HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, 104 tahun Setia Hati Terate, serta Maulid Nabi Muhammad SAW.
’’Dari pengajian ini kami berharap insan Setia Hati Terate bisa memegang teguh ajaran budi luhur dan apa yang telah diwasiatkan pendiri serta para pendahulu kita,’’ ujarnya, Sabtu (5/9) di Graha Krida Budaya.
Menurut Moerdjoko, salah satu wasiat penting tersebut adalah menjaga NKRI dan berpegang teguh pada empat pilar kebangsaan. Yakni, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Nilai tersebut, lanjut dia, harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui jiwa patriotik, kecintaan terhadap tanah air, serta sikap saling menghargai.
’’Kalau warga PSHT masih senang melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bagus, bermusuhan dengan sesama bangsanya, itu tidak menunjukkan jiwa PSHT,’’ tegasnya.
Karena itu, Moerdjoko mengajak seluruh warga PSHT Pusat Madiun berperan aktif menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Terutama dalam mewujudkan Madiun sebagai Kota Pendekar yang aman dan damai.
’’Mari kita jaga kebersamaan. Madiun ini harus kondusif. Madiun kita jadikan Kota Pendekar yang benar-benar aman, tenteram, dan damai. Membangun Kota Madiun tidak mudah,’’ tuturnya.
Pesan persaudaraan dan kebinekaan tersebut juga tercermin dalam konsep kegiatan.
Selain pengajian, PSHT menghadirkan tokoh lintas agama serta memadukan unsur budaya dalam rangkaian acara.
Pencak silat dikemas dalam pertunjukan cerita bertema kebinekaan.
Selain itu, kesenian jaranan Senterewe dari Tulungagung ditampilkan mahasiswa UIN SATU Tulungagung.
’’Ini juga dalam rangka kolaborasi budaya dan religi,’’ kata Moerdjoko.
Sementara itu, Ketua Dewan Pusat PSHT Pusat Madiun Issoebiantoro menyebut perjalanan 104 tahun Setia Hati Terate sebagai pencapaian yang patut disyukuri.
Terlebih, organisasi tersebut telah berkembang dan memiliki warga di berbagai daerah hingga luar negeri.
’’Tidak kalah pentingnya, kita menghormati 104 tahun PSHT yang telah diberikan kemudahan berkembang dengan sangat luar biasa,’’ ujarnya.
Menurut Issoebiantoro, keberagaman menjadi salah satu nilai yang membuat PSHT dapat diterima berbagai kalangan.
Perbedaan suku, agama, maupun kepercayaan tidak menjadi sekat dalam membangun persaudaraan.
’’Apa pun ajarannya, SH Terate ada. Sehingga SH Terate bisa diterima di segala suku bangsa. Berdasarkan kepercayaan maupun agama, kita tidak membeda-bedakan,’’ tegasnya.
Issoebiantoro berharap perjalanan lebih dari satu abad tersebut semakin memperkuat komitmen warga PSHT dalam mengamalkan ajaran organisasi.
Utamanya membentuk pribadi berbudi luhur yang mampu membedakan benar dan salah.
’’Semoga PSHT tetap kekal, jaya, dan abadi untuk selama-lamanya. Sesuai iktikadnya, yaitu membentuk manusia yang berbudi luhur, tahu benar dan salah sesuai ajaran yang diberikan,’’ pungkas Issoebiantoro. (her)
Editor : Hengky Ristanto