Jawa Pos Radar Madiun – Lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Universitas Bhakti Hasta Mulia (UBHM) Madiun mencatat hasil moncer.
Tingkat kelulusan Uji Kompetensi Nasional (UKOM) Angkatan III mencapai 95 persen. Rerata indeks prestasi kumulatif (IPK) pun menyentuh 3,82.
Sebanyak 18 lulusan angkatan tersebut mengikuti Sumpah Profesi Apoteker di Aston Madiun hari ini (19/9).
Arhagus Budy Yudhanto menjadi lulusan dengan IPK tertinggi. Nilainya sempurna, 4,00.
Bahkan, dia telah direkrut industri farmasi setelah menjalani Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA), sebelum angkat sumpah.
Prestasi lain dicatat Sri Wahyuni. Dia meraih nilai UKOMNAS PDPA tertinggi di UBHM dengan skor 78,4.
’’Kelulusan angkatan ketiga ini menjadi bukti konsistensi UBHM dalam mencetak apoteker unggul yang langsung terserap dan siap bersaing di dunia kerja,’’ kata Rektor UBHM Dr. Retno Widiarini, S.KM., M.Kes.
Tambahan 18 lulusan membuat PSPPA UBHM kini telah mencetak 40 apoteker.
Menurut Retno, hampir 90 persen alumni angkatan I dan II telah bekerja di berbagai instansi kefarmasian.
Baca Juga: Hadiri Satu Abad Gontor, Prabowo Disambut Meriah Santri dan Alumni di Ponorogo
Sebagian lainnya memilih berwirausaha dengan mengelola apotek.
Bekal mahasiswa pun tidak berhenti pada kemampuan teknis kefarmasian. UBHM mengembangkan kurikulum berbasis hybrid skills.
Kompetensi digital, analisis data, hingga adaptasi teknologi kecerdasan buatan (AI) diintegrasikan dalam konsep Apoteker 5.0.
’’Kurikulum kami tak hanya mencetak lulusan yang mahir secara teori, tetapi juga adaptif terhadap pesatnya digitalisasi praktik kefarmasian,’’ jelas Retno.
Menurut dia, perkembangan layanan kesehatan menuntut apoteker memiliki kompetensi semakin luas.
Termasuk menghadapi persoalan swamedikasi, resistensi antimikroba (AMR), hingga optimalisasi obat berbahan alam.
Mahasiswa juga mendapat penguatan mengenai farmakovigilans untuk meningkatkan keamanan penggunaan obat dan keselamatan pasien.
’’Kami berharap para apoteker baru konsisten menjaga etika profesi dan menjadi garda terdepan dalam mengawal keselamatan pasien,’’ tuturnya.
Sementara itu, Arhagus mengatakan pencapaian IPK sempurna diperoleh setelah melewati rangkaian pendidikan dan praktik di apotek, rumah sakit, puskesmas, distribusi, hingga industri farmasi.
Usia tak menjadi penghalang baginya. ’’Meski saya paling senior di antara semuanya, tidak ada kata terlambat. Kalau sungguh-sungguh, kita bisa menjadi yang terbaik. Ini kado terbaik untuk istri dan anak saya,’’ ungkapnya.
Sri Wahyuni juga mengaku harus mempersiapkan diri ekstra untuk menghadapi UKOMNAS.
Materi selama pendidikan kembali dipelajari secara intensif menjelang ujian. ’’Saya harus ekstra fokus dan belajar giat sebelum tes,’’ tandasnya. (chi/her/*)
Editor : Mizan Ahsani