Cerita silat original Deni Kurniawan*
RAKYAT yang semula riuh perlahan diam. Itu setelah para dewan Palagan Lawu Wilis mengumumkan bahwa pertarungan utama dijeda tanpa alasan yang jelas. Cerita silat yang ditunggu-tunggu tertunda dimulai.
Anila Nurani dan Agni Dahana saling menatap bingung. Keduanya lantas kembali ke tenda masing-masing.
Pun, para rakyat yang semula bersemangat, kini beranjak daro arena pertarungan dengan bersungut-sungut.
“Kenapa ditunda? Kami sudah tak sabar menunggu akhir cerita silat ini!'' gerutu seorang rakyat.
Agni kembali ke kelompoknya di bawah panji Ponorogo. Anila melangkah pelan ke tendanya di sisi barat arena.
Di dalam tenda, Anila duduk bersila. Dia mencoba menenangkan diri.
Namun, di situlah bayangan masa lalu datang menyapa gadis berjuluk Pesilat Lereng Lawu itu.
Dia teringat perempuan yang menggandeng tangan dan menggendongnya menyusuri jalur hutan Lawu. Ibunya.
Sosok yang mengantarkannya ke sebuah padepokan kecil.
“Kau harus kuat, Nak. Ibumu hanya bisa menemanimu sampai di sini,” kata ibu Anila kala itu.
Namun ternyata, perpisahan itu menjadi pertemuan terakhir Anila kecil dengan ibunya.
Itulah kalimat terakhir sebelum tubuh sang ibu hilang di balik kabut. Selamanya tak pernah kembali.
Ibunya mengorbankan diri agar Anila mampu menguasai jurus silat elemen angin.
Tiba-tiba, tirai tenda tersibak. Seorang lelaki muda berambut cepak dengan sabuk kulit cokelat muncul.
Adalah Banyu Mangadem, pesilat utusan Pacitan.
Seorang pesilat yang mengalah kepada Anila di pertarungan sebelumnya di Palagan Lawu Wilis.
Pria yang menaruh hati kepada Anila. Pun, begitu sebaliknya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Banyu dengan suara lirih. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan