Jawa Pos Radar Madiun – Di balik banyaknya jajanan tradisional Jawa, ada satu nama yang cukup unik namun menyimpan cita rasa otentik khas Nusantara, yakni Rondo Kemul.
Kue berbahan dasar singkong ini berasal dari Purwokerto dan menjadi bagian dari kumpulan resep dalam buku Mustikarasa, warisan kuliner Presiden pertama RI, Soekarno.
Nama Rondo Kemul sendiri terdengar jenaka karena secara harfiah berarti “janda berselimut”.
Namun sesungguhnya menyimpan filosofi mendalam tentang kesederhanaan, kehangatan, dan keakraban dalam tradisi dapur rakyat.
Kue ini dibuat dari bahan-bahan sederhana: singkong, kelapa, dan gula merah. Kombinasi itu melahirkan rasa legit dan tekstur lembut yang cocok disajikan sebagai kudapan sore hari atau sajian hajatan keluarga.
Berikut resep membuat Rondo Kemul, sebagaimana diolah dari buku Mustikarasa:
Bahan-Bahan
1 kg singkong (diparut dan diperas)
1 butir kelapa (diambil santan kentalnya sebanyak 3 gelas, lalu dimasak hingga menjadi 1 gelas)
1 kg gula merah (diiris halus)
1 sendok teh garam
1 bungkus vanili
Daun pisang secukupnya untuk membungkus
Cara Membuat Rondo Kemul
1. Singkong dikupas, dicuci bersih, lalu diparut dan diperas hingga agak kering.
2. Kelapa diparut, lalu diambil santan kentalnya sebanyak 3 gelas. Santan ini dimasak hingga menyusut menjadi 1 gelas.
3. Gula merah diiris tipis agar mudah larut saat dicampurkan.
4. Semua bahan—singkong parut, gula merah, santan, garam, dan vanili—diaduk hingga rata.
5. Adonan kemudian dibungkus dengan daun pisang, satu sendok per bungkus, dan dikukus hingga matang.
6. Setelah matang, bungkus pertama dibuka. Adonan kemudian dibungkus ulang dengan daun pisang baru, disiram sedikit santan kental, dan dikukus sekali lagi hingga aroma keluar sempurna.
Proses dua kali kukus ini menjadi ciri khas Rondo Kemul, membuat teksturnya lebih padat namun tetap lembut, dengan rasa gurih-manis yang seimbang.
Aroma khas dari daun pisang yang dipanaskan juga menambah kenikmatan rasa tradisionalnya.
Membuat Rondo Kemul hari ini adalah merayakan sejarah, menyambung tradisi, dan menikmati kembali kekayaan rasa Indonesia yang otentik.
Cocok untuk disajikan dalam acara keluarga, bazar kuliner, hingga konten edukasi masak berbasis sejarah di media sosial.
(dew/cor)
Editor : Andi Chorniawan