Oleh: Tory Andromeda
RASA-rasanya kita tidak perlu se-ngotot seperti mendalami sejarah musik-musik skena bawah tanah, mendengarkan ratusan lagu The Beatles.
Ataupun mengoleksi vinylnya dulu untuk bisa dianggap keren, paling skena, serta hanyut dalam fenomena musik yang satu ini, atau bahkan menjadi fans militannya. Karena kuncinya cuma satu; datang ke konsernya, lalu jogeti saja.
Ya. Sepertinya kita harus sepakat bahwa fenomena musik Pop Jawa masih menjadi hal yang menarik di tengah anak-anak muda.
Bahkan, kita tidak perlu lagi mengunjungi tempat-tempat akar rumput untuk bisa menikmati alunan musik ini.
Hentakan kendang khas musik dangdut yang dulu dianggap ndeso, kampungan, kini malah banyak tersaji di tempat kekinian macam pusat perbelanjaan modern atau coffee shop estetik.
Sambil menikmati Red Velvet, Coffee Latte atau Americano dipadu dengan camilan french fries dan sandwich seharga puluhan ribu ditemani tembang Denny Caknan, Guyon Waton, ataupun virus lagu-lagu 'Sang Pangeran' Gilga yang semakin menggila.
Cukup menarik memang. Bagaimana pada akhirnya para Gen-Z kekinian yang katanya gampang rapuh dan loro ati ini menerjemahkan perasaan mereka dengan apa adanya melalui lirik-lirik Jawa sehari-hari yang relate dengan kehidupan percintaan mereka.
Mengutip apa yang pernah dikatakan sang maestro Almarhum Didi Kempot; "loro ati, jogeti wae!"
Mungkin hal ini juga yang mendasari pop Jawa akhir-akhir ini menjadi primadona.
Seolah kita diajak untuk tidak larut dalam kesedihan putus cinta, dan malah cenderung merayakan patah hati bersama-sama.
Siapapun bisa menikmati, siapapun bisa bernyanyi, gayeng dijogeti, dan tentunya tanpa rasa khawatir dihujat para 'polisi skena' yang seringkali menghakimi.
Entah di kantor, restoran mahal, kafe, angkutan umum, bahkan acara formal yang menghadirkan para pejabat dan kepala daerah pun tak luput dari serangan dangdut kontemporer ini.
Oh iya, tak cukup sampai disitu. Jangan lupakan juga beberapa momen sakral macam HUT Kemerdekaan RI 2022 lalu. Kita tentu masih ingat bagaimana penyanyi cilik Farel Prayoga mendendangkan 'Ojo Dibandingke' karya Abah Lala dan berhasil menggoyang Istana Negara.
Beberapa musisi yang semula begitu berpegang teguh pada idealis dan 'taste' musik mereka pun terlihat tak berdaya dengan gempuran lagu-lagu semacam ini, bahkan rela untuk banting setir dan mentasbihkan diri sebagai penyanyi pop jawa pendatang baru.
Mereka siap bersaing dengan para pendahulu-pendahulu sebelumnya, menciptakan lagu-lagu serupa, berharap dibayar sekali tampil hingga puluhan juta, dan menjadi idola.
Tentunya kita juga harus mengerti, bahwa ini semua sah-sah saja.
Kembali ke ranah lokal, apalagi. Dengan bahasa jawa sehari-hari, pop jawa ini bagaikan menjadi sajian makanan yang gampang dicerna. Gampang masuknya, gampang pahamnya. Ah, dan tidak perlu munafik juga.
Dalam beberapa acara, beberapa anak-anak usia belasan tahun atau yang baru menginjak 20 an awal yang sekilas terlihat 'kalcer' dengan tattoo kecil-kecil mereka, lengkap beserta atribut kaos AC/DC dan Metallica, terlihat tidak sungkan untuk melepaskan hasrat berjoget ria sembari berteriak lantang; "kowe konangan gendakan!".
Dengan pendengar mencapai puluhan juta di kanal-kanal musik digital dan dunia maya, dangdut/pop jawa tentunya masih dianggap raja, khususnya di Madiun Raya.
Namun pertanyaannya, sampai berapa lama sang raja ini masih akan mendominasi industri musik Indonesia? Kita lihat saja.
Maaf, maksud saya; kita jogeti saja! (naz)
Penulis adalah jurnalis Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani