Jawa Pos Radar Madiun - Thrift shop kini menjelma jadi gaya hidup baru anak muda. Di tengah mahalnya harga fashion di pusat perbelanjaan, generasi Gen Z memilih alternatif yang lebih kreatif.
Yakni, belanja baju bekas alias thrifting. Barang-barang second-hand bukan lagi dipandang sebelah mata. Justru, semakin lawas dan langka, semakin diburu.
Dari jaket denim jadul, kemeja flanel 90-an, hingga sepatu vintage yang sudah tak diproduksi lagi, semua jadi incaran.
Anak-anak muda rela menyusuri pasar loak, bazar, hingga akun Instagram thrift lokal demi satu outfit unik yang bisa jadi fashion statement.
Harga tentu jadi daya tarik utama. Namun, sensasi menemukan "hidden gem" di antara tumpukan baju bekas adalah kepuasan tersendiri.
Bayangkan saja, jaket Levi's vintage bisa dibeli hanya Rp 70 ribu tapi tampilannya bisa sekelas outfit jutaan jika dipadukan dengan gaya yang pas.
Di kota-kota seperti Madiun, tren thrift makin berkembang. Banyak anak muda membuka lapak thrift mereka sendiri, baik secara offline di pop-up market maupun online melalui TikTok Shop dan Instagram.
Thrifting tak lagi sekadar soal gaya, tapi juga ladang bisnis kreatif.
Lebih dari itu, gerakan thrifting juga selaras dengan nilai keberlanjutan (sustainability). Di tengah maraknya fast fashion yang memproduksi pakaian dalam jumlah besar dan cepat, thrift shop menjadi solusi ramah lingkungan.
Membeli pakaian bekas artinya memperpanjang umur pakaian dan mengurangi limbah tekstil.
Yang paling menarik, fashion hasil thrifting cenderung unik dan anti-mainstream. Tak ada yang menjamin kamu akan bertemu orang lain memakai outfit yang sama.
Inilah yang membuat anak muda makin percaya diri: tampil beda tanpa harus mahal. (den)
Editor : Deni Kurniawan