Ulasan lakon wayang oleh Ki Damar*
DALAM kisah Pandawa Syukur, diceritakan bahwa para Pandawa mengadakan upacara besar sebagai wujud rasa terima kasih kepada Tuhan atas anugerah yang telah diberikan.
Mereka diberi amanah memimpin Negara Amarta, negeri yang indah, tenteram, dan makmur. Simbol dari kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatnya.
Namun, Prabu Kresna, titisan Hyang Wisnu dan sahabat bijak para Pandawa, memberikan syarat yang penuh makna spiritual.
Dia menegaskan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan lewat pesta dan doa, melainkan harus diwujudkan dalam amal nyata dan kebijaksanaan.
Syarat Tujuh Pandita sebagai Lambang Ilmu dan Iman
Kresna meyampaikan syarat bahwa Pandawa harus mengundang tujuh pandita sebagai tamu kehormatan dalam upacara syukur itu.
Ketujuh pandita itu memiliki kriteria khusus:
Rajin bertapa, melambangkan kedekatan dengan Tuhan.
Menjadi sumber ilmu bagi umat.
Bijaksana dan penuh kasih terhadap sesama.
Selain itu, Pandawa diwajibkan bersedekah kepada rakyat miskin, sebab rasa syukur sejati adalah ketika nikmat dibagi dan dirasakan bersama.
Benang merah dalam penggalan lakon wayang Pandawa Syukur itu selaras dengan firman Allah:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menjadi dasar moral dari lakon Pandawa Syukur. Bahwa, memberi dengan ikhlas akan berbuah berlipat ganda, bukan hanya harta tetapi juga keberkahan. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan