Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Gara-Gara AI, Harga RAM Meroket dan PC Bakal Jadi Barang Mahal Pada 2026

Ardia Dimas • Jumat, 12 Desember 2025 | 20:45 WIB
Ilustrasi harga RAM naik karena AI.
Ilustrasi harga RAM naik karena AI.

Jawa Pos Radar Maadiun - Industri PC global diprediksi akan diguncang 'badai besar' pada 2026.

Setelah harga GPU perlahan stabil sepanjang 2025, tekanan baru justru datang dari sektor yang selama ini dianggap aman, yakni memori RAM dan SSD.

Kenaikan harga yang terjadi kali ini bukan kenaikan biasa, melainkan lonjakan ekstrem yang berpotensi mengubah peta industri PC secara menyeluruh pada 2026.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, lonjakan harga RAM dan SSD terjadi akibat kelangkaan pasokan memori global yang dipicu oleh ekspansi masif pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pabrik yang sebelumnya memproduksi memori untuk kebutuhan konsumen kini kewalahan memenuhi permintaan dari data center raksasa milik OpenAI, Google, Meta, hingga NVIDIA. Dampaknya, pasar PC dan laptop ikut tercekik.

Situasi ini tidak lagi bisa dianggap sebagai tren musiman. Bagi gamer, kreator konten, hingga pengguna laptop harian, krisis memori ini mulai terasa nyata dan berpotensi makin memburuk pada tahun depan.

Lonjakan Harga Terungkap dari Pabrikan PC

Sinyal bahaya pertama datang dari CyberPowerPC. Perusahaan perakit PC ternama itu mengumumkan kenaikan harga seluruh sistem rakitannya mulai 7 Desember 2025.

Keputusan tersebut diambil setelah biaya komponen utama, terutama memori, melonjak tajam dalam waktu singkat.

Menurut laporan internal dan data pasar, harga RAM global melonjak hingga 500 persen, sementara SSD mengalami kenaikan hingga 100 persen.

Angka ini jauh melampaui kenaikan harga komponen PC lain dalam beberapa tahun terakhir.

Data Center AI Jadi Biang Kerok

Penyebab utama krisis ini bukan berasal dari gangguan produksi atau bencana di pabrik semikonduktor.

Justru sebaliknya, produksi berjalan relatif normal. Masalah muncul karena ledakan permintaan dari sektor AI yang tumbuh agresif sepanjang 2025.

Setiap layanan AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Grok, Galaxy AI, dan platform sejenis membutuhkan server berperforma tinggi.

Server tersebut mengandalkan DRAM dalam jumlah sangat besar untuk komputasi berat, serta NAND Flash berkapasitas raksasa untuk menyimpan dan mengolah data.

Semakin banyak pengguna AI di seluruh dunia, semakin besar pula kebutuhan memori per data center. Kondisi ini menciptakan perebutan pasokan memori secara global.

Produsen Memori Tinggalkan Pasar Konsumen

Di tengah situasi ini, pabrikan memori mengambil keputusan yang rasional secara bisnis, namun berdampak besar bagi konsumen.

Penjualan memori ke data center AI menawarkan margin keuntungan jauh lebih tinggi dibanding pasar PC dan laptop.

Akibatnya, produsen mulai memprioritaskan pesanan dari sektor AI dan mengurangi pasokan memori untuk konsumen.

Contoh ekstrem terlihat dari langkah Micron yang menutup lini consumer brand Crucial demi memfokuskan produksi pada memori kelas enterprise dan AI.

Langkah tersebut menjadi sinyal kuat bahwa arah industri memori global telah bergeser signifikan.

Transisi DDR5 Memperparah Situasi DDR4

Masalah lain datang dari proses transisi teknologi. Saat pabrikan beralih memproduksi DDR5, ketersediaan DDR4 semakin menipis.

Padahal, permintaan DDR4 untuk PC kelas menengah dan budget masih sangat tinggi.

Akibat ketimpangan ini, harga DDR4 justru naik lebih tajam dibanding DDR5. Konsumen yang berharap membangun PC murah dengan DDR4 kini menghadapi biaya yang jauh lebih mahal dari perkiraan.

Data Kenaikan Harga yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan data dari DRAM Exchange dan PCPartPicker, lonjakan harga terjadi dalam waktu sangat singkat. Harga spot DRAM melonjak drastis hanya dalam hitungan hari.

DDR4 16Gb naik dari sekitar 28 dolar AS menjadi 37 dolar AS.

DDR5 16Gb melonjak dari 20 dolar AS ke kisaran 33 dolar AS.

Sementara itu, laporan TrendForce mencatat harga kontrak DRAM kuartal III 2025 melonjak 171,8 persen secara tahunan. Angka ini bahkan melampaui laju kenaikan harga emas dalam periode yang sama.

Di pasar ritel, modul RAM dari merek seperti Corsair dan Crucial mulai naik tajam di Amazon.

Ketersediaan stok semakin terbatas, sementara SSD PCIe Gen 4 dan Gen 5 ikut mengalami lonjakan harga hingga dua kali lipat.

Laptop dan OEM Bersiap Naik Harga

Krisis memori tidak hanya menghantam perakit PC. Produsen laptop global juga mulai merasakan dampaknya.

Menurut sumber ritel internasional, beberapa merek besar sudah bersiap menyesuaikan harga produk mereka pada 2026.

Lenovo dikabarkan akan menaikkan harga laptop mulai Januari 2026. HP dan Dell disebut sedang mengevaluasi ulang lini produknya menjelang CES 2026.

Situasi diperparah oleh fakta bahwa OEM hanya menerima sekitar 30 hingga 40 persen dari total pasokan memori yang mereka pesan.

Artinya, laptop keluaran awal 2026 hampir pasti hadir dengan harga lebih mahal. (cor)

Editor : Andi Chorniawan
#ai #2026 #ram #naik #PC #harga #SSD