Oleh: Maidi
BEBERAPA kali belakangan ini saya cukup sering bertugas ke luar kota. Seperti saat penghargaan Kota Layak Anak di Makassar, pembukaan Porprov di Lamongan, tugas lain ke Bojonegoro dan Kediri serta beberapa kali urusan Smart City di Jakarta. Disela tugas itu, saya selalu sempatkan untuk melihat apa yang menarik di sana. Rata-rata, daerah-daerah ini memiliki sesuatu yang khas. Ini memantik saya untuk juga mewujudkan itu. Kota Madiun harus memiliki ikon yang membuat orang kaget, terus diingat dan ingin kembali lagi.
Kota Madiun sudah memiliki modal besar untuk itu. Selain silat, kita juga punya pecel. Siapa yang tidak mengetahuinya. Mendengar dua kata itu, orang langsung berucap, oh Madiun. Namun, itu saja tentu belum cukup. Pecel dan silat Madiun ini harus lebih dikenalkan lagi. Harus mendunia dan dilirik mata internasional. Dikemas semenarik mungkin agar terus diingat dan tentunya membuat orang ingin kembali lagi. Terutama soal pecelnya.
Pedagang nasi pecel sudah cukup banyak di Kota Madiun. Nyaris ada disetiap RT. Sayangnya, ini belum cukup menjual. Belum layak untuk disuguhkan kepada wisatawan. Tempatnya terpisah-pisah. Kadang masuk gang pula. Belum ada sentra pecel yang memadai.
Saya ingin ada seperti itu di Kota Madiun. Ada satu tempat yang khusus menyuguhkan segala jenis pecel. Dikonsep menarik, indah, dan moderen tentunya. Hal-hal seperti itu sudah lazim di negara lain. Seperti Legoland di Johor Bahru, Malaysia. Bedanya, dalam kawasan itu menyuguhkan permainan-permainan khas Disneyland dan pernak-pernik soal lego tentunya. Potensi Kota Madiun tentu akan menarik jika dikonsep seperti itu. Kalau disana ada Legoland. Di sini ada PeceLand. Sebuah Kampung Pecel yang dikemas moderen. Ini cukup mungkin diwujudkan.
Apalagi, Kota Madiun memiliki tempat yang pas. Di sekitar pasar hewan di Jalan Tirta Raya, Nambangan Lor. Saya sudah lakukan survei. Luasnya sekitar 15 hektare. Tentu pasar hewannya akan dipindah. Entah di Kelurahan Tawangrejo, Kelun, atau memakai aset Pemerintah Kota Madiun di Pilangrejo, Kabupaten Madiun. Belasan hektar ini cukup untuk sebuah kampung. Kampung Pecel tadi. Saya berangan ada sebuah restoran pecel. Bertaraf internasional. Pecelnya harus pecel khas Madiun. Terutama di sambalnya. Sambal Pecel Madiun ditambahkan jeruk purut dan menggunakan gula merah. Kalau di daerah lain biasanya dicampuri kencur dan memakai gula putih. Sayuran Pecel Madiun juga lebih lengkap. Bunga turi salah satu sayuran yang jarang ada di nasi pecel daerah lain.
Karena itu, Kampung Pecel ini tidak hanya menyuguhkan nasil pecel yang siap makan. Wujud awal unsur-unsur di dalamnya juga akan disajikan. Luasan 15 hektar ini cukup untuk membuat restoran dan perkebunan ubo rampe pecel. Mulai kebun turi, kacang panjang, cabai, kecipir, tebu, ketan hitam, dan singkong. Tebu sebagai bahan utama gula merah bahan sambal pecel. Sedang, ketan hitam merupakan bahan dasar madumongso. Saya juga akan menghidupkan minuman Tape Kambang, minuman khas Madiun pelengkap nasi pecel. Pokoknya lengkap. Rencananya juga ada kebun Jeruk Nambangan. Jeruk ini memang khas Kota Madiun dan letaknya juga pas. Di Kelurahan Nambangan Lor. Perkebunan ini semakin menarik karena akan dikonsep organik.
Disela perkebunan juga akan ditambah taman mawar dan gubuk untuk tempat bersantai dan berswafoto. Lagi-lagi, spot foto memang tengah digandrungi masyarakat era kekinian. Taman bunga mawar ini bukan sekedar pemanis. Hasil bunganya bisa dijual memenuhi kebutuhan bunga tabur untuk berziarah. Di kawasan tersebut juga ada sungai kecil. Ini bisa dimanfaatkan untuk wisata air. Seperti yang pernah saya bilang, semua titik harus dioptimalkan. Kampung Pecel ini tidak hanya restoran dan kebun. Proses pembuatannya juga akan ditampilkan. Saya berencana membuat semacam laboratorium pecel di sana. Pengunjung dapat melihat proses pembuatan sambal pecel dan gula merah dari tebu.
Namanya tempat wisata, tentu belum lengkap tanpa buah tangan. Di sana juga ada kios-kios yang menjajakan produk-produk khas. Bukan hanya dari Kota Madiun. Tapi juga produk daerah di Bakorwil Madiun. Wisatawan yang ingin produk dari se-eks karisidenan cukup datang di Kota Madiun. Saya juga bekerja sama dengan Pemerintah Magetan terkait wisata Sarangan. Ini bisa dikolaborasikan. Wisatawan bisa berkuliner dulu di Kampung Pecel sebelum ke Sarangan. Lengkap dan menarik tentunya.
Apalagi, juga ada pertunjukkan silat Kampung Pecel. Wisatawan dapat menikmati kuliner pecel sambil melihat pertunjukkan. Bisa belajar jurus-jurus silat pula. Seperti tulisan saya sebelumnya, Kota Madiun merupakan Warrior of Asia melalui pencak silatnya. Ini bisa digabungkan dengan Kampung Pecel. Pejuang Asia ini dimulai dari Kampung Pecel. Dimulai dari PeceLand ini. ‘PeceLand, The Birthplace of Asian Warrior’.
*Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, M.Pd.
Editor : Administrator