Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Dari Melukis, Suyitno Sukses Jadi Perajin Batik Tulis

Hengky Ristanto • Sabtu, 1 Januari 2022 | 19:40 WIB
FOTO ILUSTRASI: Sejumlah warga lingkungan Sidomakmur, Kelurahan Ketanggi, Ngawi, menjalani tes urin. (DOK. JAWA POS RADAR MADIUN)
FOTO ILUSTRASI: Sejumlah warga lingkungan Sidomakmur, Kelurahan Ketanggi, Ngawi, menjalani tes urin. (DOK. JAWA POS RADAR MADIUN)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Sorot mata Suyitno tampak fokus memelototi pola demi pola di permukaan sebuah kain primisima. Setelah dirasa sempurna, dia bersama sang istri mulai membatik menggunakan canting. ''Membatik itu butuh ketelatenan dan kesabaran karena prosesnya tidak sebentar, '' kata Suyitno, Sabtu (1/1).


Suyitno mulai akrab dengan canting dan peranti membatik lainnya saat masih tinggal di Bali bersama saudaranya. Awalnya, pria yang juga seorang pelukis itu kebingungan saat hendak menentukan motif. Tidak lama berselang, matanya langsung tertuju pada artikel tentang kelahiran Gatotkaca di sebuah koran.


Dari situlah pria 72 tahun itu mendapatkan konsep batik lukis tulis. Meski hasilnya belum maksimal, Suyitno memberanikan diri menjual karyanya. Tak disangka, ternyata laku seharga Rp 1.500 kala itu. Hasil penjualan tersebut sebagian dibelikan dua lembar kain dengan harga satuan Rp 300. ''Saya batik lagi, dijual laku Rp 3.000. Akhirnya naik terus,'' kenangnya.


Setelah 30 tahun menetap di Bali, Suyitno memilih pulang kampung ke Kota Madiun. Belakangan, warga Jalan Keningar, Kelurahan Ngegong, Manguharjo, itu dipercaya memberikan pelatihan membatik bagi ibu-ibu PKK. ''Kali pertama pelatihannya di Wisma Haji. Waktu itu era Wali Kota Pak Bambang Pamoedjo,'' bebernya.


Seiring berjalannya waktu, kemampuan Suyitno membatik semakin meningkat. Meski begitu, belakangan dia memilih fokus pada batik tulis. Sedangkan batik lukis ditinggalkan. Berkat keseriusannya, pria itu kerap ditunjuk dinas koperasi untuk mengikuti pameran di berbagai daerah.


Itu pula yang membuat batik tulis karya Suyitno dikenal luas. Bahkan, pernah dibeli Presiden RI ke-VI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejumlah empat lembar. ''Senang sekali,’’ ucapnya. ‘’Putra Pak SBY melalui ajudannya juga pernah pesan sarimbit ke saya,'' imbuhnya.


Selama ini Suyitno mengusung motif bervariasi untuk batiknya. Mulai parang, bunga, buah sukun, hingga daun ketela. Tak jarang pula dia membuat variasi unik yang terinspirasi dari lingkungan sekitar. ''Dulu pernah buat batik gambarnya kompor, kanan kirinya ada canting dan di sekelilingnya pecel. Ada juga batik daun pisang dikelilingi pecel,'' ungkapnya.


Proses pembuatan batik dimulai dari memordan kain dan terakhir mengunci warna menggunakan waterglass. Selembar kain batik rata-rata selesai seminggu jika menggunakan pewarna sintetis. Pengerjaan bakal lebih lama apabila memakai pewarna alam seperti jolawe dan dedaunan macam daun mahoni, mangga, ketepeng, dan jati. ‘’Harga jualnya beda-beda. Paling bagus ukuran tiga meter, Rp 1,5 juta,'' sebutnya. (irs/isd/c1/her)

Editor : Hengky Ristanto
#madiun #kerajinan