KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Upaya penanganan stunting di Kota Madiun belum berhenti. Pada Selasa (18/10), pemkot resmi meluncurkan program Warung Stop Stunting (WSS). Rencananya, warung tersebut bakal dibuka di seluruh kelurahan. ‘’Akan kami buka di 27 titik lapak UMKM,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi usai me-launching WSS di Ngrowo Bening Edupark.
Maidi menyebutkan, ada 922 sasaran penerima bantuan kebutuhan gizi tersebut. Perinciannya, 514 bayi bawah lima tahun (balita) dan 408 ibu hamil (bumil). Seluruhnya akan menerima tiga jenis bantuan dalam bentuk voucher. Yakni, kebutuhan pokok atau bahan mentah, makanan siap saji, dan belanja di UMKM.
‘’Anak stunting merupakan persoalan yang harus bisa diatasi,’’ ujarnya. ‘’Kami menyusun program setiap minggu anak-anak stunting kami beri paket makan bergizi di WSS,’’ imbuhnya.
Seorang balita, kata Maidi, mendapat voucher bahan mentah senilai Rp 374 ribu per pekan. Sedangkan bumil Rp 386 ribu. Jenis kebutuhan pokok akan ditentukan tim dinkes PPKB dengan mengacu kebutuhan gizi. Voucher makanan siap saji senilai Rp 36 ribu sepekan untuk setiap sasaran. Sementara, voucher belanja Rp 50 ribu dapat dibelanjakan di lapak UMKM
Maidi menuturkan, voucher tersebut dapat ditukarkan di WSS dengan jadwal yang telah ditentukan kelompok masyarakat (pokmas) kelurahan selaku pelaksana.
Bahan pokok dan menu makanan siap saji yang diberikan ditentukan tim kesehatan dinkes PPKB dengan melibatkan dokter spesialis gizi. ‘’Kami siapkan anggaran Rp 5,4 miliar untuk mengatasi persoalan stunting sampai akhir tahun ini,’’ sebutnya.
Menurut dia, upaya menekan angka anak dengan gangguan tumbuh kembang di Kota Madiun sejauh ini menunjukkan progres positif. Jumlah balita kekurangan gizi kronis berhasil direduksi.
Berdasarkan data terbaru, angka stunting di daerah setempat saat ini tersisa 512 jiwa atau berkurang 155 dari sebelumnya 667. ‘’Angka stunting sudah turun. Tapi, saya ingin ditekan serendah mungkin. Kalau bisa sampai nol,’’ ungkapnya.
Bumil, terutama mulai usia kandungan lima bulan hingga melahirkan, juga mendapat perhatian lebih terkait kecukupan gizinya. Sebab, stunting terjadi akibat kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan serta pada masa awal setelah lahir.
Namun, stunting baru terdeteksi ketika anak menginjak usia setidaknya dua tahun. ‘’Ibu hamil kami beri gizi terbaik. Mereka tidak perlu memikirkan belanja untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Tinggal menjaga kesehatan diri maupun bayi yang ada di kandungan,’’ pungkasnya. (her/adv)
Editor : Hengky Ristanto