KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Taraf kesejahteraan masyarakat di Kota Madiun terus didongkrak. Penyediaan rusunawa II menjadi salah satu buktinya.
Banyak yang merasakan manfaat atas keberadaan fasilitas hunian yang muncul di kota ini saat era kepemimpinan Maidi itu.
Di salah satu hunian di rumah susun sewa (rusunawa) II Kota Madiun, terlihat seorang ibu sedang membereskan ruang tamu.
Sejurus kemudian, dia menyiapkan beberapa makanan dan lauk di atas meja.
Adalah Tutik Sulistiana. Pekerjaan sehari-harinya serabutan. Dari pijat khusus perempuan sampai asisten rumah tangga (ART) panggilan.
Sebelum pindah ke rusunawa II, dia bertempat tinggal di Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. ''Ikut orang tua di sana,'' kata Tutik, Kamis (25/4).
Ketertarikan ibu dua anak itu pindah ke rusunawa berawal saat menonton ulasan rusunawa I di YouTube.
Tutik ingin menempati fasilitas hunian yang dibangun di masa kepemimpinan Wali Kota Madiun Maidi itu. Dia lantas mengajukan permohonan menempati pada 2020.
Selang tiga tahun kemudian, nama Tutik terdaftar sebagai penghuni rusunawa II gelombang pertama.
Dengan kata lain, dua tahun sudah dia menjadi penghuni rusunawa II. ''Sangat bersyukur bisa tinggal di rusunawa,'' ujarnya.
Tutik yang tertarik saat melihat rusunawa I lalu menempati rusunawa II, tampaknya sudah digariskan Yang Maha Kuasa.
Kepastian mendapatkan jatah hunian itu bersamaan dengan momen dia kehilangan kerja.
''Dulu saya jaga kos-kosan, dapat panggilan dan diperbolehkan menempati rusunawa itu ketika kos-kosan dijual oleh pemiliknya,'' terangnya.
Tutik tak kesulitan selama proses menjadi penghuni rusunawa II. Cukup dengan fotokopi kartu keluarga (KK) dan KTP, dia bisa mendapatkan hunian dengan fasilitas lengkap.
Seperti dua kamar tidur beserta kasur, kamar mandi, dapur, ruang tamu beserta lemari, serta meja dan kursi.
''Alhamdulillah, bisa mandiri dari orang mulai waktu itu,'' syukurnya.
Kehidupan baru dijalani Tutik dan keluarga. Dia menguliahkan anak perempuannya di Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) dengan KIP kuliah.
Putrinya kini berkesempatan magang ke Korea. ''Setelah lulus SMK, anak saya sebenarnya diterima kerja di Jepang. Tapi karena saya sakit-sakitan, dia ingin menemani saya,'' ungkapnya.
Tutik melakukan sesuatu yang bisa dikerjakan di rumah. Itu karena ia memiliki riwayat sakit jantung lemah. Pekerjaan berat tak dapat dilakukannya.
''Maaf, saya sering menolak bersalaman karena telapak tangan selalu basah, takut menyinggung,'' ujarnya.
Di tempat yang sama, di lantai tiga, ada keluarga kecil yang bahagia. Suami, istri, dan dua anak. Medi Gunawan kepala keluarga itu.
Mereka menempati rusunawa II sejak tiga bulan lalu. Medi merasa senang dengan fasilitas yang tersedia.
''Sebelumnya ngekos di daerah Njoyo, Rp 450 ribu per bulan,'' kata pria asal Malang itu.
Medi menyampaikan, seluruh persyaratan pemindahan diurusi istrinya yang asli warga Kelurahan Oro-oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun.
Sampai sekarang dia masih bekerja serabutan di kota ini. Selama tinggal di rusunawa, dia mengamu tidak ada kesulitan. Bahkan, merasa enak dan senang dengan fasilitas yang tersedia.
Dia ingin membesarkan kedua buah hatinya di rusunawa. "Insya Allah menetap, harapan ke depan ya di sini dulu karena nyaman," pungkas pria 31 tahun itu. (mg1/den)
Editor : Mizan Ahsani