KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Universitas Merdeka (Unmer) Madiun belakangan ini memperlihatkan perubahan besar.
Baik dari segi sarana-prasarana, akademik, maupun pengembangan sumberdaya manusia (SDM).
Itu tidak terlepas dari peran Kolonel (Purn) Rachman Fikri, ketua Yayasan Perguruan Tinggi Merdeka Madiun (Yapertimma).
Meski baru menjabat sekitar satu tahun, Fikri sudah melakukan berbagai terobosan. Di antaranya, membangun laboratorium tentang character building atau Character Building Laboratory.
"Semacam laboratorium dengan beberapa kelas. Yang sudah jalan kelas public speaking, briefing, dan jurnalistik. Ke depan, akan dikembangkan ke kelas bahasa Inggris dan psikologi," ujarnya.
Dia menyebutkan, laboratorium itu bertujuan mencetak lulusan yang memiliki keunggulan karakter disamping kemampuan akademis.
"Jadi, ketika lulus tidak hanya dapat ijazah dan IPK, tapi juga terampil membuat lamaran pekerjaan, wawancara, public speaking, dan tentunya keunggulan dalam leadership," sebutnya.
"Inilah perbedaan Unmer Madiun dengan kampus lainnya," sambung pria kelahiran Blitar, yang besar di Ponorogo, dan sekarang berdomisili di Madiun itu.
Fikri mengatakan, Yapertimma juga memprioritaskan pengembangan SDM pengajar. Dosen Unmer harus profesional dan memiliki kemampuan transfer ilmu kepada mahasiswa.
"Tidak hanya mempertimbangkan latar belakang akademis dosen tapi yang lebih penting kemampuan dosen dalam memberi pemahaman kepada mahasiswa dalam transfer pengetahuan."
"Yang lebih penting adalah mampu memberikan pemahaman kepada mahasiswa. Kami juga support dosen sekolah lebih tinggi untuk meningkatkan kemampuannya,’’ tutur Fikri.
Fikri menjelaskan, awalnya pada era 70 an berdiri kampus Unmer Malang koordinator Madiun itu. Kemudian di era 80 an menjadi Universitas Merdeka Madiun (Unimma).
Pendirinya adalah Samiarto Laksono yang kala itu menjabat pembantu gubernur sekaligus mantan direktur Akademi Pendidikan Dalam Negeri (APDN).
Disamping perlunya perguruan tinggi yang berada di Madiun karena banyak universitas cabang di Madiun yang dulunya operasional menjadi bubar.
Sementara tingkat ekonomi masyarakat yang masih belum bagus lebih memilih agar anaknya kuliah di Madiun dari pada di luar kota dengan pertimbangan ekonomi.
"Itu pertimbangan pak Samiarto. Beliau ingin membentengi generasi saat itu dari paham komunisme."
"Lalu dari Unimma menjadi kampus Unmer Madiun resmi berdiri pada 1985-an hingga akhirnya berkembang memiliki yayasan," lanjut mantan Dandim 0803 Madiun periode 2015-2018 itu.
Fikri berharap, seluruh dosen dan karyawan tetap semangat dan tidak pernah putus asa untuk menjadikan Unmer Madiun semakin maju.
Serta, menghasilkan lulusan yang berkualitas secara akademik sekaligus berkarakter.
Lebih lanjut, keberadaan Unmer mampu memberikan konstribusi dalam mengatasi permasalahan masyarakat. (eln/isd/*)
Editor : Mizan Ahsani