KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun — Banyak tenaga kesehatan (nakes) di Kota Madiun belum paham deteksi sekaligus penanganan gejala penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak.
Padahal penderitanya cukup tinggi. Di sisi lain, tenaga ahli dan sarana-prasarana (sarpras) medis yang ada di rumah sakit di Kota Pendekar terbatas.
"Di RSUD dr Soedono Madiun kurang lebih ada 700—1.000 kelahiran anak, maka akan ada delapan sampai sepuluh anak menderita penyakit jantung bawaan," ungkap dr Taufiq Hidayat, SpA(K) yang merupakan Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat dalam rangka pelatihan dini penyakit jantung bawaan pada anak di RSUD dr Soedono Madiun kemarin (23/5).
Lebih lanjut, dr Taufiq mengungkapkan dari jumlah kelahiran anak tersebut sekitar 25 persen di antaranya berpotensi memiliki risiko mengidap penyakit jantung bawaan kritis. Bahkan, mengancam nyawa mereka mulai dari 28 hari hingga satu tahun awal kelahiran.
Kondisi itu diperparah dengan minimnya deteksi penyakit jantung bawaan. Sehingga, berpotensi meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada anak.
"Pelatihan kepada tenaga medis perlu dilakukan untuk meningkatkan keahlian dalam mendeteksi adanya penyakit jantung bawaan kritis. Termasuk tatalaksana serta pengobatannya," ujar dokter spesialis anak konsultan jantung itu.
Menurut dr Taufiq, penyakit jantung bawaan kritis dapat didiagnosis dengan metode pemeriksaan echocardiography. Namun, pemeriksaan tersebut memerlukan keahlian khusus. Dan, belum ada nakes di Kota Madiun yang memiliki kemampuan tersebut.
"Ada metode pemeriksaan yang lebih sederhana. Salah satunya dengan pulse oximetry untuk mengukur saturasi oksigen yang dibawa dalam sel darah merah. Ini bisa membantu diagnosis PJB kritis secara dini yang tidak terdeteksi," ungkapnya.
Namun demikian, dr Taufiq mengaku bahwa nakes yang mengetahui penggunaan metode pulse oximetry tersebut juga terbatas. Sehingga, diperlukan pelatihan bagi para nakes.
Pasalnya, keberhasilan tatalaksana penyakit jantung bawaan sangat bergantung pada kecepatan dan ketepatan diagnosis.
"Nah, nakes yang sudah terlatih (menggunakan pulse oximetry) diharapkan dapat menjadi garda terdepan menanggulangi tingginya kasus penyakit jantung bawaan," harapnya.
dr Taufiq sempat mensimulasikan pemeriksaan pasien anak rentang usia 0—18 tahun dengan diagnosis atau kecurigaan penyakit jantung bawaan oleh dokter spesialis anak di Kota Madiun kemarin.
Satu per satu anak diminta menjalani pemeriksaan echocardiography yang dilakukan dokter spesialis anak konsultan jantung anak dari RSUD dr Soetomo Surabaya.
"Skrining pulse oximetry dan echocardiography. Seluruh pasien anak yang terdiagnosis penyakit jantung bawaan," ujarnya.
Dia mengungkapkan, RSUD dr Soedono Madiun bukan satu-satunya rumah sakit yang menjadi rujukan pengabdian masyarakat serta pelatihan nakes. Sebelumnya, kegiatan serupa juga dilakukan di beberapa rumah sakit yang ada di Jatim.
Namun demikian, kata dr Taufiq, dipilihnya RSUD dr Soedono Madiun karena linier dengan program promosi dokter spesialis anak yang bisa sekolah konsultan jantung di Surabaya.
Di samping itu, peralatan di rumah sakit milik pemprov tersebut juga dianggap cukup lengkap. "Insya Allah sudah siap (peralatannya) dan bisa dipakai jika dokter spesialis anak yang bersekolah konsultan jantung sudah selesai," jelasnya. (ggi/her)
Editor : Hengky Ristanto