KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Weton pasaran legi di penghujung bulan Sura atau muharram ditutup warga Pangongangan dengan menggelar bersih desa, Jumat (2/8).
Tradisi itu dikemas dalam bentuk acara selamatan tumpeng di kawasan makam (punden) Nyi Ageng Ronje.
Sebelumnya pada Kamis (1/8) malam digelar jagongan budaya dengan mengundang sejarawan untuk menjelaskan tentang sejarah Pangongangan.
Kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya mulai dari kantor kelurahan hingga makam Nyi Ageng Ronje pada Jumat pagi.
‘’Di sini (Pangongangan) merupakan bumi kandungnya Kabupaten Madiun sebelum lahir Kota Madiun. Nyi Aging Ronje merupakan sesepuh Pangongangan sehingga bersih desa dilaksanakan di sini,’’ kata Eva Anjarika Rahmawati, Lurah Pangongangan.
Dia berharap tradisi bersih desa semacam ini bisa memotivasi warganya dalam pelestarian budaya.
Karena itu, tokoh masyarakat setempat, LPMK, RW dan RT sengaja ikut dilibatkan.
Di sisi lain, pihaknya juga mendorong tradisi bersih desa Pangongangan bisa menjadi bagian dari pengembangan sektor pariwisata.
‘’Sudah pernah ada konsep sekitar sebulan lalu. Cuma bagaimana cara mengemasnya ke depan itu yang masih menjadi PR. Ya, agar supaya (tradisi) ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan,’’ ungkap Eva.
Penjabat (Pj) Wali Kota Madiun Eddy Supriyanto menilai tradisi bersih desa semacam ini bukan hanya ada di Pangongangan.
Sebelumnya, acara serupa juga digelar di Winongo, Josenan, Nambangan Lor dan Kartoharjo.
Karena saking banyaknya dan digelar saat bulan Sura, Eddy menilai tradisi ini menjadi aset budaya Kota Madiun.
Hanya saja, dia berharap acaranya dapat dikemas lebih kreatif sehingga bisa menarik minat wisatawan. ‘’Ini menjadi salah satu aset (budaya) Kota Madiun. Mungkin bisa dikembangkan ke depannya sebagai wisata lokal,’’ terangnya. (mg1/her)
Editor : Mizan Ahsani