KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pedagang konveksi di lantai dua Pasar Besar Madiun (PBM) sambat. Buntut kondisi pasar yang kelewat sepi.
‘’Biasanya, sehari cuma laku lima sampai enam potong,’’ kata Wagiyem, 52, pedagang baju anak-anak, Kamis (24/10).
Omzet harian Wagiyem Rp 200 ribu.
Setidaknya, nominal tersebut cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Untuk kebutuhan lain sudah tidak bisa.
‘’Sebelum Covid-19, sehari bisa dapat jutaan rupiah,’’ ujar warga Jalan Sendang, Kartoharjo, Kota Madiun, itu.
Pengeluaran dan pemasukan harus seimbang.
Wagiyem kini mesti mengepras jumlah barang saat kulakan.
‘’Dulu sekali kulakan sampai Rp 3 juta, sekarang tidak bisa,’’ ungkapnya sembari menyebut Pasar Klewer Solo sebagai tempat kulakan.
Sutrisno, pedagang baju batik, juga mengeluhkan hal serupa.
Menurutnya, kondisi pasar sekarang jauh lebih ketimbang sebelum pandemi.
‘’Dulu sehari bisa dapat Rp 5 juta, sekarang hanya sekitar Rp 1 juta,’’ kata Sutrisno.
‘’Ambil barang dagangan dari Pekalongan,’’ imbuh warga Jalan Mangga, Kejuron, Taman, itu.
Kondisi sepi lantai dua PBM tak ditampik Pemkot Madiun. Sejumlah upaya telah disiapkan.
Seperti, rencana menggelar beberapa event di lokasi tersebut pada 2025 mendatang. (err/den)
Editor : Mizan Ahsani