KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Jembatan Patihan hadir dengan tampilan baru.
Modelnya berupa jembatan gantung dengan tiga bentang yang memiliki panjang total 110 meter. Sementara lebar jembatan hanya 1,8 meter.
Dengan begitu, akses penyeberangan yang menghubungkan antara Kelurahan Sogaten dengan Patihan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Tidak seperti jembatan lama yang sudah putus pada 2021 lalu.
Kini, jembatan yang membentang di atas Kali Madiun itu hanya bisa dilintasi sepeda motor dan pejalan kaki.
Jembatan bertipe suspensi yang pembangunannya menelan anggaran sekitar Rp 10,3 miliar tersebut mampu menahan beban maksimal 4 ton atau sekitar 40 orang.
Selasa (31/12) lalu, jembatan gantung itu resmi difungsionalkan oleh Pj Wali Kota Madiun Eddy Supriyanto serta dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR).
’’Memang secara resmi belum diresmikan, tapi secara fungsional sudah bisa digunakan masyarakat,’’ kata Eddy.
Keberadaan Jembatan Patihan selanjutnya akan diresmikan pada Senin (6/1) mendatang bersama dengan proyek prioritas lainnya.
Seperti rehabilitasi Pasar Pancasila, pembangunan asrama Pondok Lansia tahap II, dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).
Eddy menilai hasil pembangunan jembatan itu cukup bagus.
Meski terdapat keterlambatan dan proses pengerjaannya, tetapi semua digarap sesuai prosedur.
Kemudian, dalam proses pelaksanaan proyek tersebut didampingi oleh Tim Pengamanan Pembangunan Strategis dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Madiun.
’’Insya Allah sudah dikerjakan sesuai ketentuan,’’ ujarnya.
Pihaknya berharap pembangunan jembatan ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Mengingat selama Jembatan Patihan yang lama terputus sejak 2021 lalu, warga harus memutar jauh melewati Jembatan Prambanan untuk sekadar ke Sogaten maupun Patihan.
’’Insya Allah jembatannya aman karena di kanan-kiri jembatan dipasang tali sling,’’ kata Eddy.
Selain di Jembatan Patihan, Eddy sebelumnya sempat meninjau hasil pembangunan IPLT di Kelurahan Winongo.
Dia mengatakan, proyek penganggarannya bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp 10,6 miliar tersebut memang belum bisa dioperasionalkan.
Sebab, masih menunggu kelengkapan petugas operasional berikut pengadaan truk tinja yang akan dilakukan pada tahun anggaran 2025.
Meski begitu, IPLT sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
’’Yang jelas, semua (proyek) sudah selesai dikerjakan seluruhnya. Sementara sudah bisa difungsionalkan,’’ terang Eddy. (ggi/her/*)
Editor : Mizan Ahsani