KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Ini cerita tentang Pasar Besar Madiun (PBM) dahulu dan sekarang.
Perbedaan kondisi dirasakan betul oleh pedagang.
‘’Sejak dua tahun terakhir, hari Minggu seperti hari biasa,’’ kata Mbah Tajab, 84, pedagang pakaian asal Kelurahan Kejuron, Taman, Kota Madiun, itu Senin (6/1).
Mbah Tajab berjualan di PBM sejak 1965. Saban pukul 07.00, dia berangkat ke pasar diantar anaknya.
Setiba di tempat jualan, barang dagangan disiapkan.
Meladeni berbagai kalangan pembeli jadi agenda berikutnya.
Namun, itu dulu. Sekarang, dia lebih sering duduk termenung menunggu calon pembeli. ‘’Pernah 10 hari tidak laku sama sekali,’’ ungkap
Setengah abad lebih Mbah Tajab berjualan.
Dari keadaan pasar yang kumuh dengan bau tak sedap tetapi ramai sampai sekarang dengan kondisi bersih namun sepi.
Mulai era orde lama, orde baru, hingga reformasi. ‘’Zamannya Pak Harto (Presiden Ke-2 RI) pasar ini jaya-jayanya,’’ ujarnya.
Sejatinya, Mbah Tajab diminta berhenti berjualan oleh anaknya.
Namun, dia geleng kepala. Baginya yang sudah sepuh, berjualan adalah hiburan. ‘’Semoga pasar bisa ramai seperti dulu,’’ harapnya.
Nanik Muryani, pedagang konveksi, menyampaikan hal serupa. Tak banyak barang jualannya yang pindah tangan ke pembeli.
‘’Kadang seminggu blong tidak ada yang laku. Kalaupun laku, hanya celana pendek Rp 15 ribu,’’ kata perempuan yang sudah berdagang di PBM sejak 1990-an itu.
Bagi pedagang, Lebaran merupakan momen panen. Namun, hal itu tak lagi dirasakan manisnya oleh Nanik. Seperti Idul Fitri 2024.
Seminggu sebelum hari H, dia sama sekali belum mendapat pembeli.
‘’Dulu, terutama Minggu, rame. Orang-orang bertabrakan dan berkerumun,’’ kenangnya.
Nenek delapan cucu itu menuturkan, banyak pedagang tutup usaha sejak dua tahun terakhir.
Deretan kios tempat Nanik jualan, sebelumnya terisi semua. Kini, banyak yang tutup. ‘’Banyak pedagang sudah tua, anak-anaknya tidak mau meneruskan,’’ ucapnya.
Menurut Puji Yayuk, pedagang tas dan sepatu, pasar sepi karena daya beli masyarakat menurun.
‘’Daripada membeli barang, lebih memilih nongkrong di kafe atau beli paketan (internet, Red),’’ kata Puji. (err/den)
Editor : Mizan Ahsani