KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Ini hasil evaluasi inflasi selama natal dan tahun baru (nataru) di Kota Madiun.
Inflasi Kota Madiun tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata Jawa Timur (Jatim) dan nasional.
''Inflasi tahunan Kota Madiun pada Desember 2024 berada di angka 1,31 persen, di bawah Jatim maupun nasional,'' kata Kepala Bagian Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat (Perekokesra) Kota Madiun, Danang Novianto kemarin (9/1).
Selama Nataru, berbagai kegiatan turut mendongkrak daya beli masyarakat. Pada Desember, inflasi bulanan naik 0,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,29 persen.
Kenaikan didorong permintaan bahan pokok seperti telur ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah.
"Secara umum, harga barang pokok masih dapat dijangkau oleh masyarakat," ungkap Danang.
Untuk mengantisipasi potensi inflasi di awal 2025, pemkot kembali mengaktifkan Warung Tekan Inflasi (Wartek).
Program itu menyediakan bahan pokok seperti cabai, telur, dan bawang merah, dengan harga lebih terjangkau.
Selain itu, inovasi Toko Acuan Tekan Inflasi (Token), yang diluncurkan pada Desember 2024, juga menjadi langkah strategis menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Madiun terus melakukan optimalisasi program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk meningkatkan ketersediaan bahan pangan lokal.
Selain itu, program makan bergizi gratis (MBG) juga tetap dilanjutkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.
Danang menekankan pentingnya koordinasi dengan daerah penghasil bahan pokok. Mengingat Kota Madiun bukan wilayah produksi, distribusi bahan pangan harus dijaga agar tidak terjadi hambatan pasokan.
"Kami akan memastikan distribusi bahan pokok berjalan lancar dengan menjalin koordinasi yang baik dengan daerah penghasil," ujarnya. (err/den)
Editor : Mizan Ahsani