KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Terjadi deflasi sebesar sebesar 0,78 persen di Kota Februari 2025.
Secara year on year 0,54 persen dan year to date alias kumulatif sejak awal tahun mencapai 1,08 persen. Namun, inflasi diperkirakan terjadi bulan ini.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun Abdul Aziz mengatakan, deflasi bulanan dipengaruhi penurunan harga kelompok pengeluaran perumahan.
Seperti air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
‘’Selain itu, harga beberapa komoditas dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami penurunan," ungkap Aziz, Senin (3/3).
Dia menjelaskan bahwa salah satu faktor utama penyebab deflasi adalah penurunan tarif listrik.
Buntut diskon 50 persen bagi pelanggan rumah tangga dengan daya 450 hingga 2.200 watt selama Januari dan Februari.
Sejumlah komoditas seperti bawang merah, daging ayam ras, cabai rawit, tomat, semangka, bayam, kacang panjang, dan terong mengalami penurunan harga.
‘’Sehingga memberikan dampak deflasi yang cukup dalam,’’ ujarnya.
Kendati demikian, beberapa komoditas justru mengalami kenaikan harga pada Februari. Beberapa di antaranya, kenaikan harga elpiji tiga kilogram.
Kemudian, tarif air minum PAM akibat penyesuaian biaya pemeliharaan meteran oleh Perumda Tirta Taman Sari Kota Madiun.
Pun, beberapa yang lain seperti papaya, telur ayam ras, mobil, emas perhiasan, dan bensin nonsubsidi.
Baca Juga: Maidi Beber Program 100 Hari Kerja di Paripurna Penyampaian Visi Misi, DPRD Kota Madiun Siap Kawal
Tak terkecuali, harga wortel, rokok sigaret kretek mesin, dan jeruk.
Meski terjadi deflasi selama dua bulan berturut-turut, Aziz menilai situasi ini masih dalam kategori aman dan relatif terkendali. Deflasi lebih banyak dipengaruhi tarif listrik.
‘’Namun, Maret nanti tarif listrik kembali normal, sehingga harga-harga bisa mengalami penyesuaian kembali," ujarnya.
Aziz mengingatkan bahwa anomali cuaca yang masih berlangsung dapat berdampak pada produksi pertanian. Terutama komoditas hortikultura.
Momen Ramadan biasanya terjadi peningkatan konsumsi yang berpotensi menaikkan harga bahan pangan.
"Ketika permintaan meningkat, harga cenderung naik. Menjelang Lebaran akhir Maret, tarif angkutan juga berpotensi naik, bisa berdampak inflasi," pungkasnya. (err/den)
Komoditas Penyumbang Deflasi
- Tarif listrik: -0,84 persen
- Bawang merah: -0,08 persen
- Daging ayam ras: -0,04 persen
- Tomat: -0,03 persen
- Semangka: -0,03 persen
- Cabai rawit: -0,02 persen
- Bayam: -0,02 persen
- Kacang panjang: -0,02 persen
- Terong: -0,01 persen