KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah hiruk-pikuk Kota Madiun, berdiri sebuah masjid yang sarat sejarah dan spiritualitas. Adalah Masjid Besar Kuno Taman. Tempat ibadah yang telah berusia ratusan tahun. Pintu masjid ini terbuka selama 24 jam. Itu memungkinkan siapa saja untuk beribadah dengan tenang dan khusyuk.
Masjid Besar Kuno Taman merupakan warisan sejarah dari masa ke masa. Masjid ini berstatus cagar budaya. Dilindungi oleh Pemerintah Kota Madiun dan Trowulan. Dibangun oleh Kiai Ageng Misbach alias Kiai Donopuro.
Dia adalah guru spiritual Kanjeng Pangeran Ronggo Prawidirjo I yang merupakan Bupati Ke-14 Madiun. Masjid ini juga punya pertalian erat dengan peninggalan Kerajaan Pajang dan Demak. Hal tersebut menjadikannya salah satu masjid tertua di Madiun setelah Masjid Kuno Kuncen.
Beberapa bagian asli bangunan masih dipertahankan. Seperti empat umpak batu, serambi, pintu kayu jati, serta pilar berdiameter 25 cm. Renovasi dilakukan pada 1981 dengan mengganti genting menjadi kayu jati.
Kemudian, diperbarui lagi dengan sirap kayu uli pada 1999. Lantai yang dulunya berupa ubin kotak kini telah diganti dengan marmer. Sementara serambi yang dahulu berdinding tembok, sekarang kayu jati.
Salah satu ciri khas masjid ini adalah letaknya yang berdampingan dengan makam. Hal itu menyimpan filosofi mendalam. Makam di depan masjid mengingatkan umat Islam bahwa kehidupan dunia adalah fana. Ibadah adalah bekal utama menuju akhirat.
Dahulu, ada mitos bahwa tidak boleh ada bangunan yang lebih tinggi dari makam di sekitar masjid. Konon, mereka yang melanggar akan mengalami kejadian buruk. Namun, kepercayaan itu kini lebih dianggap sebagai takhayul. Tergantung bagaimana sikap masyarakat.
Keunikan lain adalah dua pohon sawo manilo yang dahulu tumbuh megah di halaman masjid. Pohon itu dipercaya menambah keasrian dan keindahan lingkungan masjid. Pada 1981, kedua pohon ditebang. Usaha penanam kembali telah dilakukan dua hingga tiga kali. Tetapi, pohon-pohon pengganti tidak dapat bertahan hidup.
Masjid Besar Kuno Taman memiliki warisan seni tradisional gembrung, semacam hadrah. Seni ini dimainkan oleh 10 orang dan biasa ditampilkan pada hari-hari besar Islam. Pertunjukan menyajikan salawat nabi dengan berbagai alat musik seperti gendang, gembrung besar, tektur, dan gembrung kecil.
Selama Ramadan, masjid ini semakin hidup dengan berbagai kegiatan ibadah. Di antaranya, buka bersama bagi masyarakat sekitar. Tadarus Alquran setelah salat tarawih dan subuh. I’tikaf di malam-malam terakhir Ramadan. Khataman Alquran pada malam 27 Ramadan disertai selamatan agar pembaca dan pendengar mendapatkan berkah.
Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan Islam. Di dalam kompleks masjid, terdapat lembaga pendidikan dari tingkat PAUD, TK, hingga Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dengan posisinya yang strategis di tengah kota dan sejarahnya yang panjang, Masjid Besar Kuno Taman menjadi magnet tersendiri bagi umat Islam di Madiun.
Masjid ini adalah warisan leluhur yang wajib diramaikan dengan ibadah agar keberkahan terjaga. ***(den)
Editor : Hengky Ristanto