Jawa Pos Radar Madiun – Semangat literasi Yosep Rusfendi tak pernah padam.
Warga Jalan Ki Ageng Selo, Kelurahan Kanigoro, Kartoharjo, itu sejak 2015 konsisten membuka lapak baca keliling bertajuk Perpus Koper Madiun Membaca.
Setiap Minggu pagi, ia membawa koper berisi ratusan buku ke ruang publik.
“Motivasinya sederhana, ingin mengajak banyak orang membaca bersama,” ujar Yosep, Minggu (11/5).
Perpustakaan koper keliling itu biasa hadir di Pahlawan Street Center (PSC), Sunday Market, dan Lapangan Gulun.
Di lokasi-lokasi tersebut, Yosep membentang tikar, menggelar 200–300 buku, dan membebaskan siapa pun membaca secara gratis.
Koleksi bukunya kini mencapai sekitar 3.000 judul, mulai cerita anak, novel, hingga literatur keluarga.
Menurut Yosep, budaya baca belum mati. Hanya cara dan medianya yang bergeser.
Kini, banyak warga lebih menyukai bacaan digital seperti e-book dan novel daring.
“Sekarang orang lebih cari yang simpel. Tidak lagi harus ke perpustakaan, cukup buka gawai,” tuturnya.
Meski begitu, ia percaya buku fisik masih penting. Terutama jika aksesnya dipermudah melalui ruang publik.
Bahkan ia menyarankan agar buku-buku masa kini seperti coding dan AI lebih banyak disediakan di tempat umum.
“Supaya anak-anak kita juga bisa belajar hal yang relevan dengan zamannya,” imbuhnya.
Tak berhenti di lapak, Yosep juga mengembangkan MadiunMembaca.my.id, aplikasi peminjaman buku daring.
Inovasi itu sudah meraih juara ketiga Kompetisi Inovasi Kota Madiun (KIAT) 2024 dan kini masuk nominasi kompetisi global di bawah PBB.
“Finalnya akhir bulan ini, kami masih menunggu pengumuman,” pungkasnya. (err/den)
Editor : Hengky Ristanto