Jawa Pos Radar Madiun – Pertumbuhan ekonomi Kota Madiun tahun 2024 tercatat 5,73 persen.
Angka itu sedikit lebih rendah dibanding capaian tahun sebelumnya yang menyentuh 5,80 persen.
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Aziz menjelaskan, perlambatan itu terjadi meski beberapa sektor justru mencatat pertumbuhan cukup tinggi.
Antara lain sektor transportasi dan pergudangan sebesar 10,95 persen, jasa perusahaan 8,37 persen, serta konstruksi 8,06 persen.
"Penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman juga tumbuh 7,60 persen," ujar Aziz, Kamis (29/5).
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2024 mencapai Rp 18,65 triliun.
Naik dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 17,26 triliun.
Namun, terdapat tiga sektor utama yang justru mengalami perlambatan signifikan.
Yakni perdagangan besar dan eceran (turun dari 5,60 persen menjadi 4,59 persen), industri pengolahan (dari 7,98 persen ke 6,36 persen), serta informasi dan komunikasi (dari 6,17 persen ke 4,91 persen).
Padahal, sektor perdagangan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Madiun, yaitu 26,37 persen.
"Tapi pertumbuhannya justru menurun, hanya 4,59 persen," jelasnya.
Aziz menilai, fenomena ini dipicu oleh pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kini lebih sering berbelanja secara online dari toko luar daerah.
Transaksi semacam ini tidak tercatat dalam PDRB daerah karena tidak melibatkan pelaku usaha lokal.
“Belanja online ini jadi tantangan. Karena belanjanya di luar kota, dampaknya tidak dirasakan ekonomi lokal,” imbuhnya.
Sebaliknya, tingginya pertumbuhan di sektor transportasi dan pergudangan justru mengindikasikan arus barang dari luar meningkat.
Namun sayangnya, hal itu tidak memperkuat ekonomi lokal. “Barang dari luar masuk, tapi yang untung bukan pelaku usaha daerah,” pungkas Aziz. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto