Jawa Pos Radar Madiun – Angka inflasi Kota Madiun pada November 2025 tercatat 0,13 persen secara month to month (m-to-m).
Meski terbilang rendah, Pemkot Madiun tetap mewaspadai potensi lonjakan harga di akhir tahun.
Kepala Bagian Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Madiun, Danang Novianto, menjelaskan bahwa inflasi tahun kalender berada di angka 1,92 persen dan year on year (y-o-y) mencapai 2,36 persen.
“Angka ini masih di bawah target pemerintah pusat sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Artinya masih aman,” ujarnya, Rabu (3/12).
Namun, Danang menegaskan sejumlah faktor seperti curah hujan tinggi dan risiko bencana hidrometeorologi bisa berdampak pada produksi dan distribusi pangan.
“Tomat menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi bulan lalu, diikuti oleh bawang merah,” katanya.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga jelang Natal dan tahun baru, Pemkot Madiun akan menggelar High Level Meeting (HLM) bersama Forkopimda dan memperkuat sejumlah program pengendalian inflasi.
Di antaranya, mewajibkan ASN menanam enam jenis tanaman produktif di rumah masing-masing, melanjutkan program Metapro di sekolah, dan mengembangkan Sekolah Peduli Inflasi (SPI).
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) juga telah menyalurkan bibit hortikultura untuk memperluas pekarangan pangan lestari (P2L).
Di sisi lain, pemkot mulai merealisasikan kerja sama pasokan dengan petani di kawasan Sarangan.
“Tujuannya agar harga tetap stabil dan terjangkau masyarakat, sekaligus menjaga ketersediaan barang,” pungkas Danang. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto