Jawa Pos Radar Madiun – Perayaan Natal tahun ini di Paroki Santo Cornelius, Kota Madiun, tampil berbeda.
Gereja tersebut menghadirkan pohon Natal berbahan anyaman blarak atau daun kelapa sebagai wujud kreativitas sekaligus penerapan kearifan lokal.
Puluhan kipas anyaman blarak disusun membentuk pohon cemara setinggi sekitar dua meter yang berdiri di depan pastoran.
Pohon Natal alami tersebut tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai spot foto keluarga umat yang datang merayakan Natal.
Koordinator Tim Dekorasi Gereja Paroki Santo Cornelius Dominique Marie Umaryatun mengatakan, penggunaan blarak selaras dengan tema Natal tahun ini yang mengusung nilai kesederhanaan dan kebersamaan keluarga.
Tahun sebelumnya, pohon Natal dibuat dari botol plastik bekas.
“Setiap Natal kami selalu membuat pohon natal di depan pastoran. Selain untuk perayaan, juga digunakan sebagai photo booth keluarga,” ujarnya, kemarin (22/12).
Proses pembuatan pohon Natal dilakukan secara gotong royong.
Sekitar sepuluh ibu paroki menganyam blarak di rumah masing-masing.
Satu kipas anyaman membutuhkan sekitar 12 helai daun kelapa.
Total, sekitar 200 kipas dari 20 pelepah daun kelapa disiapkan untuk menyusun dekorasi tersebut.
Kerangka pohon dibuat dari bambu dengan diameter sekitar 125 sentimeter dan tinggi dua meter.
Setelah seluruh anyaman terpasang, pohon Natal dilengkapi pernak-pernik lampu, bintang, serta foto-foto keluarga umat.
Seluruh elemen tersebut disesuaikan dengan tema Natal 2025, Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga.
“Proses pengerjaan sekitar dua hari. Hari ini tinggal finishing. Sudah hampir 90 persen,” jelas Marie.
Menurutnya, penggunaan blarak justru memberikan nilai estetika tersendiri.
Anyaman daun kelapa akan mengering secara alami seiring waktu tanpa memerlukan perlakuan khusus.
“Tidak harus pakai bahan sintetis. Bahan lokal juga bisa jadi pohon Natal yang indah, awet, dan bermakna,” pungkas warga Sogaten, Kecamatan Manguharjo tersebut. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto