Jawa Pos Radar Madiun – Hidup Yuni Umi Nur Qomariyah berputar lewat jalan yang tak pernah ia rencanakan.
Dari lapak kecil di Pasar Besar Madiun (PBM) yang hangus terbakar, perempuan itu kini duduk sebagai lurah, memimpin Kelurahan Taman.
Sebelum mengenakan seragam aparatur sipil negara (ASN), Yuni—sapaan akrabnya—bertahun-tahun menggantungkan hidup dari berjualan jajanan rentengan dan roti di PBM.
Semua runtuh saat kebakaran besar meluluhlantakkan lapaknya. Modal lenyap, usaha ambruk.
Tak ingin larut, Yuni memilih merantau ke Jakarta.
Sekitar dua tahun ia membuka warung kecil, bertahan sebisanya.
Hingga akhirnya, keinginan untuk mandiri di kampung halaman membawanya pulang ke Kota Madiun.
Di usia 35 tahun, keputusan besar ia ambil: mendaftar sebagai PNS.
“Dagangan habis terbakar, modal juga habis. Akhirnya saya daftar PNS,” ujarnya, Minggu (18/1).
Tahun 2011 menjadi titik balik. Yuni diterima sebagai ASN dan mengawali karier sebagai staf administrasi perekonomian dan kesejahteraan sosial.
Delapan tahun mengabdi, awal 2020 ia dipindahkan ke Kelurahan Manisrejo.
Dari sana, jalannya menuju kepemimpinan mulai terbuka.
Yuni kemudian dipercaya menjadi sekretaris Kelurahan Taman.
Hingga akhirnya, pada September 2025, ia dilantik sebagai lurah.
Sebuah amanah yang tak pernah terlintas di benaknya.
“Sama sekali tidak terpikir jadi lurah. Tapi ini amanah, jadi saya jalani,” katanya.
Di balik perjalanan itu, tersimpan doa masa kecil yang kini menjelma nyata.
Yuni kecil kerap menyemir sepatu ibunya, Mardiah, seorang PNS Inspektorat yang pensiun pada 1998.
“Sambil nyemir sepatu, saya pernah berdoa, semoga bisa seperti ibu,” kenangnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto