Jawa Pos Radar Madiun – TITD Hwie Ing Kiong Kota Madiun mulai “bersih-bersih” menyambut Tahun Baru Imlek.
Sebanyak 22 rupang (patung) dewa-dewi diturunkan dari altar untuk disucikan dalam tradisi kimsin, Kamis (12/2).
Ritual tahunan itu diawali sembahyang mengantar Dewa Dapur, Rabu (11/2).
Setelah itu, rupang-rupang dibersihkan menggunakan air kembang.
Seluruh peralatan yang dipakai wajib baru.
’’Pembersihan menggunakan air kembang dan semua peralatannya harus baru,’’ ujar sesepuh TITD Hwie Ing Kiong Herman Tanaka.
Menurut Herman, kimsin dilakukan sebagai simbol membuang kesialan sekaligus menyongsong keberuntungan pada tahun yang baru.
Umat juga menjalani pantangan sebelum ritual berlangsung.
Salah satunya hanya mengonsumsi makanan vegetarian.
Di Kota Madiun, tradisi tersebut berakulturasi dengan menu pecel. ’’Karena yang paling simpel,’’ katanya.
Pembersihan rupang dimulai dari Dewi Kwan Im, Dewa Kwan Kong, Dewa Bumi, hingga Dewi Laut.
Rupang utama TITD Hwie Ing Kiong adalah Dewi Laut Mazu Tian Shang Sheng Mu.
Herman menjelaskan, Mazu dikenal sebagai sosok pelindung pelaut.
Karena itu, masyarakat Tionghoa yang berlayar biasanya membawa rupang Mazu untuk memohon keselamatan.
’’Pelaut itu bahaya sekali. Tidak mesti selamat,’’ jelasnya.
Herman menambahkan, rupang Dewi Laut merupakan rupang pertama yang dimiliki kelenteng tersebut.
Kelenteng lama yang dulu bernama Kelenteng Dewi Mazu disebut pernah berada di timur Bengawan Madiun, tepatnya di belakang pos polisi.
’’Tilasnya masih ada. Tidak boleh dibongkar,’’ ujarnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto