Jawa Pos Radar Madiun – Cuaca ekstrem di puncak musim penghujan menjadi tantangan bagi masyarakat yang menjalani puasa Ramadan.
Risiko dehidrasi hingga penurunan konsentrasi mengintai jika kebutuhan cairan tubuh tidak terpenuhi.
Ahli gizi Kota Madiun Nikmahtul Fadilla mengingatkan, prioritas utama saat berpuasa adalah menjaga kecukupan cairan tubuh.
’’Risiko utama saat cuaca ekstrem adalah dehidrasi dan penurunan performa kognitif. Jadi yang diutamakan kebutuhan cairannya dulu,’’ ujarnya, Senin (23/2).
Menurutnya, kebutuhan cairan ideal berkisar 30–35 mililiter per kilogram berat badan per hari.
Pemenuhannya dilakukan saat sahur dan berbuka dengan air putih sebagai pilihan utama.
Saat berbuka, masyarakat disarankan mengonsumsi buah berkadar air tinggi seperti semangka, melon, dan jeruk untuk membantu pemulihan cairan tubuh.
Untuk sahur, Nikmah menganjurkan konsumsi karbohidrat kompleks berindeks glikemik rendah seperti oat, nasi merah, jagung, dan ubi.
Jenis makanan tersebut mampu menjaga stabilitas gula darah sehingga energi bertahan lebih lama.
Asupan protein juga perlu diperhatikan, yakni dua hingga empat porsi per hari atau sekitar satu hingga satu setengah gram per kilogram berat badan.
Nutritionist RS Paru Manguharjo itu juga mengingatkan agar tidak berlebihan mengonsumsi minuman berkafein saat sahur karena bersifat diuretik dan dapat mempercepat kehilangan cairan.
Makanan asin saat berbuka pun sebaiknya dibatasi karena dapat meningkatkan rasa haus.
’’Tubuh masih punya cadangan energi, tapi yang paling krusial itu hidrasi,’’ tegasnya.
Dia menambahkan, sahur berperan menjaga stabilitas energi sepanjang hari, sedangkan berbuka berfungsi memulihkan cairan dan energi tubuh. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto