Jawa Pos Radar Madiun – Tarif listrik menjadi pemicu utama inflasi Kota Madiun pada Februari 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan mencapai 4,40 persen.
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Aziz mengatakan tingginya inflasi dipengaruhi efek pembanding yang rendah pada awal 2025.
Saat itu pemerintah memberikan diskon tarif listrik.
’’Di Februari 2025 tarif listrik rendah karena ada diskon. Sedangkan Februari 2026 kembali ke tarif normal. Sehingga terlihat seperti kenaikan tinggi,’’ ujarnya, kemarin (5/3).
Tarif listrik tercatat menyumbang inflasi hingga 94,58 persen dengan andil sekitar 1,95 persen terhadap inflasi tahunan.
Selain listrik, beberapa komoditas lain turut memicu inflasi.
Di antaranya emas perhiasan, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, serta telur ayam ras.
Meski demikian, Aziz memastikan inflasi Kota Madiun masih dalam kategori terkendali.
Sebab, target inflasi nasional berada pada kisaran 1–2,5 persen.
’’Kalau faktor listrik dikeluarkan, sebenarnya inflasi relatif rendah dan masih aman,’’ jelasnya.
Meski begitu, pemerintah kota tetap diminta waspada.
Terlebih menjelang Lebaran biasanya permintaan bahan pokok meningkat sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga.
’’Yang penting persediaan harus mampu mengimbangi permintaan masyarakat,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto