Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Misteri Makam Kuncen Madiun: Peninggalan Pangeran Timur dan Sejarah Islam di Madiun

Erlita H • Minggu, 2 Februari 2025 | 20:45 WIB

Makam Kuncen Madiun, tempat Pangeran Timur dimakamkan. (BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN)
Makam Kuncen Madiun, tempat Pangeran Timur dimakamkan. (BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Kompleks Makam Kuncen menjadi tempat peristirahatan terakhir tokoh-tokoh penting Madiun.

Pun, menyimpan perjuangan dan peradaban Islam di Madiun. Seperti yang dituturkan oleh Saimunir ini. Juru kunci makam yang setia mengabdikan diri sejak 1990 itu.

Tokoh-tokoh yang dimakamkan. Yakni, Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno atau Pangeran Timur. Bupati Madiun pertama pada 1568-1586.

Makam Pangeran Timur dan beberapa tokoh lainnya yang berperan dalam sejarah Madiun terletak di sekitar Sendang Kuncen.

Hingga kini, dihormati masyarakat setempat sebagai tempat keramat. Namun, makam ini bukanlah punden.

Melainkan, makam para Bupati Madiun, seperti Raden Mas Petak (Mangkunegara I), Raden Mas Keniten (Mangkunegoro II), dan Adipati Balitar (Mangkunegoro III).

Kedatangan Pangeran Timur di Madiun bermula setelah Sultan Trenggana (ayah Pangeran Timur) wafat.

Pangeran Timur diwisuda Sunan Kudus untuk menyebarkan agama Islam ke daerah timur. Pada 1568, dia diangkat menjadi Bupati di Purboyo, pusat pemerintahan di Sogaten.

Pada 1575, pusat pemerintahan dipindah ke Wonorejo, yang kini dikenal sebagai Kuncen hingga 1590.

Setelah masa jabatan Pangeran Timur berakhir pada 1586, pemerintahan dilanjutkan oleh putrinya, Raden Ayu Retno Dumilah.

Mataram menyerang Purboyo pada 1586-1587. Wilayah diduduki. Raden Ayu Retno Dumilah dibawa ke Mataram dan menikah dengan Danang Sutowidjoyo.

Sebagai peringatan atas kemenangan Mataram, nama Purboyo diganti menjadi Madiun pada 16 November 1590.

Komplek makam juga menyimpan berbagai peninggalan sejarah. Salah satunya berupa gentong besar yang memiliki angka Arab 1283 dan aksara Arab di atasnya.

Dipercaya masyarakat sebagai sarana penyembuhan berbagai penyakit. Satu gentong diletakkan di depan makam, sementara satu lagi berada di tengah makam selatan.

Gentong tersebut dahulu digunakan untuk tempat wudhu di depan masjid. Hingga kini, tidak dapat dipindah karena strukturnya yang sudah melekat dengan bangunan di bawahnya.

Ada pula boncet, alat tradisional yang digunakan untuk mengukur waktu salat berdasarkan bayangan matahari.

Sebuah benda penanda waktu sebelum ada jam. Sampai sekarang masih dipakai sebagian masyarakat sekitar sebagai pengingat waktu salat. (err/den)

Editor : Hengky Ristanto
#sejarah madiun #Jejak Islam di Madiun #Makam Kuncen Madiun #pangeran timur #Purboyo Madiun #Raden Ayu Retno Dumilah #wisata religi madiun #Boncet penanda waktu salat