KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Tersimpan banyak cerita di Sendang Kuncen. Mulai sejarah sampai kepercayaan masyarakat.
Seperti yang dituturkan Septian Dwita Kharisma, Ketua Komunitas Historia van Madioen (HvM).
Wartawan Jawa Pos Radar Madiun Erlita Herminingsih menyimak banyak kisah dari pria jebolan pendidikan sejarah Universitas Negeri Madiun (Unipma) itu, Jumat (7/2) lalu.
Pada rentang 1586-1590, sendang yang terletak di Kelurahan Kuncen, Taman, Kota Madiun, itu merupakan arena pertempuran.
Gelanggang tarung antara prajurit Pajang dengan Mataram. Dalam peristiwa tersebut, muncul istilah bediyun yang lantas dipercaya menjadi nama Madiun.
Sendang Kuncen sejatinya berupa sungai kuno. Keberadaan sendang sumber air sendang kuning menjadi salah satu tanda.
Ini merujuk hasil penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur dan anggota HvM.
Merujuk catatan Belanda 1906 Sendang Kuncen sebelumnya berupa dua sendang.
Yakni, sendang Toyo Sepah dan Toyo Madiun.
Toyo Sepah telah hilang. Sementara Toyo Madiun kini dikenal Sendang Kuncen.
Keberadaan Sendang Kuncen bertalian erat dengan pembuatan keris.
Konon, Mpu Umyang atau Empu Jaka Sura membuat keris Tundhung Madiun di lokasi tersebut.
Sendang yang memiliki sumur berdiameter 1,5 meter itu dikenal sakral.
Menurut tradisi yang berkembang di masyarakat, airnya dipercaya berkhasiat.
Bisa untuk menyembuhkan penyakit dan memperlancar rezeki.
Tak sedikit orang menggelar ritual di sana. Mulai yang menggunakan sesaji sampai melakukan jamasan pusaka.
Biasanya, dilakukan saat Suro. Tidak jarang, calon pemimpin Madiun menyempatkan diri melakukan ritual sebelum macung.
Sejatinya, pernah dilakukan ekskavasi pada 2021.
Hasilnya, tidak ditemukan jejak arkeologi yang signifikan.
Namun, sendang tetap menjadi situs bersejarah berpredikat situs cagar budaya.
Sendang Kuncen berada satu kawasan dengan Masjid Kuncen yang sarat sejarah.
Termasuk, sejarah politik Madiun. Pasca peristiwa Perang Gianti, Madiun berada di bawah kekuasaan Mataram.
Pada periode tersebut, sebutan Mangkunegoro mulai disematkan untuk gelar Bupati Madiun.
Itu berkaitan dengan kepentingan politik dan perkembangan Madiun sebagai daerah semi-otonom di bawah Kesultanan Yogyakarta mulai 1755.
Madiun masuk wilayah moncong negara wetan. ***(den)
Editor : Hengky Ristanto