Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Konsep RSUD dr Sayidiman bak Mount Elizabeth Hospital

Administrator • Sabtu, 16 Februari 2019 | 17:54 WIB
Photo
Photo

MAGETAN – Bupati Magetan Suprawoto tak pernah habis dengan segudang mimpinya. Mulai dari interchange (IC) tol, peningkatan kelas Stasiun Barat, hingga mengembangkan politeknik kesehatan (poltekes). Sekarang, giliran RSUD dr Sayidiman Magetan yang ingin disentuh. ’’Harus bisa seperti Mount Elizabeth Hospital Singapura,’’ kata bupati kepada Radar Magetan.


Kang Woto – sapaan akrab Suprawoto– menyebutkan, rumah sakit swasta di Singapura itu menjadi jujukan pasien dari berbagai negara. Untuk RSUD dr Sayidiman bisa menjadi pilihan pasien dari berbagai daerah di Indonesia. Tentu, harus ditopang pelayanan medis dan peralatan mumpuni. ’’Harus bisa tercapai,’’ ujarnya.


Lantas bagaimana tanggapan Dirut RSUD dr Sayidiman Magetan dr Yunus Mahatma SpPD? Usulan dari bupati dinilai bagus. Namun, rumah sakit yang dinakhodainya jelas beda tipe. Yakni, masih tipe C. Sedangkan, Mount Elizabeth Hospital tipe A. ’’Bagus saja, tapi ada satu langkah yang harus dilewati dulu sebelum melangkah ke sana (tipe  A, red),’’ tutur Mahatma.


Dia harus menaikkan takhta rumah sakitnya terlebih dahulu menjadi tipe B. Namun, hingga kini RSUD dr Sayidiman Magetan masih belum memiliki dokter rehabilitasi medik. Sehingga, untuk naik kelas masih belum memungkinkan. Biarpun dari syarat lain, seperti dokter spesialis lain dan sarana prasarana (sarpras), sudah sangat memenuhi. ‘’Tapi, kami tidak gegabah untuk naik ke tipe B dulu,’’ katanya.


Rupanya, ada alasan mengapa Mahatma tidak ingin buru-buru menaikkan tipe rumah sakitnya. Sebab, jika sudah naik kelas menjadi tipe B, maka layanan badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) tidak bisa diklaimkan. Padahal, layanan BPJS masih sangat dibutuhkan masyarakat Magetan. Jika tidak bisa dilayani BPJS, jelas masyarakat Magetan akan sangat keberatan untuk membayar biaya rumah sakit. ‘’Menurut saya, demi masyarakat Magetan, nggak usah (naik tipe B, Red),’’ ujarnya.


Keberadaan rumah sakit itu, menurut Mahatma, sudah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Tipe C-lah yang sesuai. Dia pun mengibaratkannya dengan profesi wartawan. Jika menggunakan kamera yang biasa saja sudah bisa menghasilkan foto yang bagus, pastilah tidak perlu menggunakan kamera mahal layaknya milik wartawan olahraga yang duduk di tribun dan menghasilkan jepretan bagus. ’’Semua itu kan tergantung kebutuhan masyarakat,’’ ucapnya.


Diakuinya kemampuan membayar masyarakat Magetan saat ini yakni pada kelas 1 dan 2. Di mana, biaya untuk rawat inap terbilang sangat terjangkau. Kendati duit yang dikeluarkan masyarakat terbilang kecil, namun dikatakan Mahatma tidak mengurangi pelayanan rumah sakit yang diberikan. Dia berusaha memberikan pelayanan yang sama kepada setiap pasien. ’’Kemampuan membayar kurang, tapi kami berusaha supaya mereka tetap mendapat pelayanan layaknya di paviliun,’’ tuturnya. (bel/c1/ota)

Editor : Administrator
#berita magetan #jawa pos #radar madiun #jawa pos radar madiun