MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun - Potensi Simbatan untuk berkembang menjadi desa wisata begitu besar. Terlebih, desa di Kecamatan Nguntoronadi tersebut mendapat pendampingan tim Program Pemberdayaan Desa Mitra (PPDM) Universitas Merdeka (Unmer) Madiun sejak 2021 lalu.
Kehadiran tim PPDM berdampak signifikan bagi kemajuan desa setempat. ‘’Di Simbatan, terdapat Petirtaan Dewi Sri yang jadi unggulan, selain itu juga ada Taman Dewi Sri dan Sheltered Workshop disabilitas sebagai pendukung,’’ ujar Ketua Tim PPDM Unmer Madiun Tatik Mulyati.
Simbatan juga dikenal sebagai kampung disabilitas karena terdapat cukup banyak difabel intelektual yang perlu diberdayakan. Selain Petirtaan Dewi Sri, di desa ini juga terdapat makam Syekh Maulana Abdul Karim, yang dijadikan destinasi wisata religi.
Bersama para Mitra dengan dukungan Bupati Magetan dan Dinas terkait, tim PPDM Unmer Madiun perlahan mengubah kondisi di Simbatan. Berbagai objek wisata di desa setempat dipadukan dengan edukasi dan budaya. Seperti bermain gamelan, karawitan, panembromo, dan tarian Jawa.
Penyandang disabilitas yang diwadahi dalam Kelompok Swadaya Masyarakat 'Sambung Roso' telah dibentuk sejak tahun 2015. Mereka diberdayakan agar mandiri secara ekonomi, dengan membuat produk batik ciprat dengan berbagai modifikasi seperti jumputan, lidi (gebyok), kuas, canting dan sebagainya. Diversifikasi produk juga terus dilakukan melalui pelatihan sehingga menghasilkan karya seperti mukena, taplak, tas, blus atau kemeja sesuai pesanan konsumen.
Batik Ciprat bermerek Langitan Simbatan, saat ini sedang didaftarkan untuk mendapatkan Sertifikat Merek dari DJKI Kemenkumham. ‘’Ini perwujudan dharma pengabdian masyarakat perguruan tinggi Unmer Madiun,’’ tuturnya.
Untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat ini, tim PPDM juga menjalin sinergi dengan kepala desa, pokdarwis, karang taruna, PKK, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sambung Roso. Secara spesifik, KSM Sambung Roso yang mewadahi para difabel didukung untuk bisa meningkatkan mutu dan mendiversifikasi produk.
‘’Batik ciprat karya penyandang disabilitas ini sudah merambah pasar di dalam bahkan luar negeri lho seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong dan Arab Saudi. Sementara melalui Tenaga Kerja Indonesia. Kami berupaya juga memanfaatkan digital marketing dan mendapatkan respon yang cukup baik,’’ terangnya.
Tatik dan timnya juga menyusun master plan pengembangan Simbatan sebagai desa wisata. Sejauh ini, kegiatan pengabdian sudah direalisasikan dalam wujud pemasangan paving block seluas 500 meter persegi di dalam Taman Dewi Sri, pembuatan 20 unit lapak untuk pedagang dan lapak untuk Pokdarwis dan pembuatan pagar depan Taman Dewi Sri berbahan bambu, juga panggung kesenian.
Program ini selama 3 tahun dibiayai dari DRPM Kemendikbud/BRIN. Berkat upaya tim PPDM Unmer dan Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan, Simbatan tahun lalu masuk 300 besar Deswita oleh ADWI Kemenparekraf. Tahun ini Dinas Parbud mengusulkan Simbatan mendapat penghargaan sebagai Dewi Cemara (desa wisata cerdas, mandiri, dan sejahtera. (ebo/naz/adv)
Editor : Hengky Ristanto