MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Budaya ngopi tak pernah mati.
Bahkan di beberapa daerah, budaya minum kopi justru semakin berkembang pesat. Hal itu pula yang melatari optimisme para petani kopi di Magetan.
Mereka saat ini mulai memanen buah kopi jenis arabika dan robusta dari kebun.
‘’Alhamdulillah, kalau dibandingkan dengan panen tahun lalu, kali ini harganya paling tinggi,” kata Sutoyo, petani kopi lokal, Rabu (26/6).
Sutoyo tergabung dalam Kelompok Pecinta Alam Lawu Tengah di Desa Sukowidi, Kecamatan Panekan.
Ia menyebut, para petani setempat menjual dua jenis hasil panen.
Yang pertama kopi dalam keadaan petik merah atau cherry.
Yang kedua, kopi yang belum disangrai atau green bean.
Adapun harga kopi arabika petik merah per kilogram sekitar Rp 7 ribu-Rp 8 ribu.
Sedangkan kopi arabika green bean sekitar Rp 50 ribu-Rp 60 ribu per kilogram.
Harga bisa lebih tinggi tergantung grade kopi tersebut.
Apakah grade A, B, atau C.
“Kenaikan harga kopi saat ini jika dibandingkan tahun lalu naiknya lebih dari dua kali lipat,” ungkap Sutoyo, sembari menyebut robusta lebih diminati dibandingkan arabika.
Komunitas dan pemkab setempat berupaya memastikan harga jual di tingkat petani terjaga.
Caranya dengan mendorong para petani untuk memperhatikan proses panen. ‘’Jangan hanya fokus pada kuantitas. Perhatikan juga kualitasnya,’’ pesannya. (ril/naz)
Editor : Mizan Ahsani